Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan Indonesia pada April 2026 mencapai 0,13 persen, sebuah angka yang menunjukkan tren penurunan dibandingkan perolehan Maret sebesar 0,41 persen. Data yang dirilis pada Senin (4/5/2026) ini menunjukkan tekanan harga mulai melandai secara bulanan (month to month).
Dilansir dari Suara, capaian ini membawa inflasi tahun kalender (year to date) berada di level 1,06 persen. Kelompok pengeluaran transportasi menjadi motor penggerak utama inflasi pada periode tersebut dengan catatan kenaikan harga mencapai 0,99 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono memberikan rincian mengenai kontribusi sektor transportasi terhadap struktur harga nasional. Ia menegaskan bahwa kenaikan tarif moda transportasi tertentu menjadi pemicu dominan.
"Kelompok transportasi ini memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen," kata Ateng Hartono, Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS.
Secara lebih detail, tarif angkutan udara domestik menyumbang andil sebesar 0,11 persen terhadap inflasi kelompok ini. Selain tiket pesawat, kenaikan harga bahan bakar minyak jenis bensin juga turut memberikan pengaruh dengan kontribusi sebesar 0,02 persen.
Beberapa komoditas pangan dan kebutuhan pokok lainnya juga tercatat mengalami kenaikan harga. Minyak goreng tercatat menyumbang andil inflasi sebesar 0,05 persen, disusul oleh tomat sebesar 0,03 persen, serta beras dan nasi lauk pauk yang masing-masing berkontribusi 0,02 persen.
Meski demikian, BPS juga menemukan adanya sejumlah komoditas yang justru mengalami penurunan harga atau deflasi pada April 2026. Daging ayam ras menjadi komoditas utama yang menghambat laju inflasi dengan andil deflasi sebesar 0,11 persen.
Penurunan harga juga terjadi pada sektor perhiasan dan beberapa bumbu dapur. Emas perhiasan tercatat memberikan andil deflasi 0,09 persen, diikuti oleh cabai rawit sebesar 0,06 persen, dan telur ayam ras dengan andil 0,04 persen.