Pemerintah Indonesia secara resmi menolak tawaran pinjaman senilai 20 miliar hingga 30 miliar dolar AS dari International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia pada Selasa (21/4/2026). Penolakan ini didasari oleh posisi fiskal negara yang dinilai sangat kuat.
Dilansir dari Investortrust, Indonesia saat ini memiliki cadangan kas sebesar 25 miliar dolar AS dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp420 triliun atau setara 26,4 miliar dolar AS. Ketersediaan dana ini berfungsi sebagai bantalan terhadap volatilitas ekonomi global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penawaran pembiayaan besar tersebut diajukan saat pertemuan bilateral dalam agenda Pertemuan Musim Semi IMF-Bank Dunia di Washington D.C. Dana tersebut awalnya disiapkan untuk membantu negara-negara yang membutuhkan amunisi dalam menghadapi gejolak geopolitik global saat ini.
"They offered that they had already prepared the money. Some said $20-$30 billion to provide assistance to countries in need," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Purbaya menegaskan kembali bahwa anggaran pendapatan dan belanja negara saat ini masih berada dalam kondisi yang aman sehingga penambahan utang luar negeri belum diperlukan oleh pemerintah.
"But I said, 'Thank you for the offer. But right now the APBN (state budget) condition is still good and I don't need that debt yet,'" kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Ketahanan fiskal ini juga didukung oleh pendapatan dari ekspor komoditas mineral yang melimpah. Pemerintah memastikan bahwa subsidi energi akan tetap aman dari lonjakan harga minyak mentah dunia, bahkan jika harga melambung hingga 150 dolar AS per barel akibat konflik geopolitik global.
Meskipun kondisi ekonomi dinilai stabil hingga IMF menjuluki Indonesia sebagai titik terang ekonomi global, para pakar mengingatkan agar pemerintah tidak cepat berpuas diri. Strategi pendanaan yang lebih agresif dinilai perlu dilakukan untuk menopang pertumbuhan di masa depan.
"The world has changed. Today's challenge is no longer whether we are stable or not, but whether we have a strong enough funding architecture to support future growth ambitions," kata Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia pada Jumat (17/4/2026).
Fakhrul menyarankan agar pemerintah mulai melakukan diversifikasi pendanaan dengan memanfaatkan likuiditas berbiaya lebih rendah seperti Offshore Renminbi (CNH) untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Di sisi lain, Bank Indonesia berkomitmen untuk tetap menerapkan nilai tukar fleksibel yang terukur guna menjaga daya tarik aset domestik, sementara pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen PDB.