Indonesia Targetkan Kurangi 33 Ribu Ton Sampah per Hari Melalui PSEL

Indonesia Targetkan Kurangi 33 Ribu Ton Sampah per Hari Melalui PSEL
Foto: Ilustrasi Indonesia Targetkan Kurangi 33 Ribu Ton Sampah per Hari Melalui PSEL.

Pemerintah Indonesia resmi mempercepat pelaksanaan program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah ini diambil sebagai upaya mengubah beban 140.000 ton sampah harian menjadi sumber energi terbarukan melalui teknologi insinerasi termal di sejumlah pusat perkotaan padat penduduk.

Seperti dilansir dari Investortrust, penandatanganan kerja sama penting telah dilakukan untuk wilayah Bekasi, kawasan Bogor, dan pusat pariwisata Denpasar-Badung. Melalui kesepakatan ini, pemerintah daerah diwajibkan menjamin pasokan sampah minimal 1.000 ton per hari untuk setiap fasilitas.

Langkah ini menjadi pendorong lahirnya sektor ekonomi sirkular baru di Indonesia. Selain menjamin pasokan bahan baku bagi produsen listrik swasta (IPP), badan usaha milik negara PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) juga bergerak menggantikan batu bara dengan biochar guna mempercepat dekarbonisasi nasional.

Volume sampah yang dihasilkan secara nasional saat ini telah melampaui kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) lokal. Menanggapi krisis tersebut, pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas PSEL di 30 kluster yang tersebar di 61 kota.

Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha pada Rabu (22/4/2026) memberikan penjelasan terkait target program ini.

"PSEL ditargetkan untuk mengurangi timbulan sampah sekitar 33.000 ton per hari pada tahun 2029, atau setara dengan 22,48% dari total timbulan sampah nasional," kata Muhammad Qodari.

Setiap fasilitas pengolahan tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan daya listrik rata-rata sebesar 25 MW untuk setiap 1.000 ton sampah yang diolah.

Peletakan Batu Pertama Juni 2026

Tahap pertama eksekusi program ini difokuskan pada koridor-koridor pertumbuhan tinggi di Indonesia. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa komitmen hukum untuk menjamin pasokan bahan bakar insinerator kini telah diperkuat.

"Kita tidak lagi berbicara tentang perencanaan; kita telah memasuki tahap implementasi," ujar Hanif Faisol Nurofiq.

Proses peletakan batu pertama (groundbreaking) untuk lima lokasi awal meliputi Bekasi, Yogyakarta, Bogor, Denpasar, dan Bandung dijadwalkan berlangsung pada Juni 2026. Pemerintah juga menargetkan penyelesaian kesepakatan untuk 12 kluster urban lainnya dalam waktu tujuh minggu ke depan.

Pemanfaatan Biochar oleh PLN EPI

Selain pengelolaan sampah perkotaan, PLN EPI selaku lengan pemasok bahan bakar PLN berupaya mengoptimalkan potensi biomassa nasional yang mencapai 100 juta ton. PLN EPI menjalin kemitraan dengan PT Green Marte International untuk memproduksi biochar melalui proses karbonisasi yang akan digunakan dalam metode cofiring pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir memaparkan bahwa pemanfaatan potensi biomassa di Indonesia saat ini masih sangat rendah.

"Penyerapan biomassa PLN saat ini baru sekitar 2,5 juta ton per tahun, atau 2,5% dari potensi yang ada," kata Hokkop Situngkir pada Rabu.

Hokkop Situngkir menambahkan bahwa potensi limbah pertanian sendiri diperkirakan mencapai 80 juta ton per tahun, dengan 60 juta ton di antaranya belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui konversi limbah menjadi biochar, PLN memproyeksikan penurunan emisi sekaligus penguatan ketahanan energi nasional tanpa perlu membangun infrastruktur baru.

Artikel terkait

Rekomendasi