Indonesia Targetkan Kapasitas Listrik 100 GW Tetap Komitmen Net Zero Emissions

Indonesia Targetkan Kapasitas Listrik 100 GW Tetap Komitmen Net Zero Emissions
Foto: Ilustrasi Indonesia Targetkan Kapasitas Listrik 100 GW Tetap Komitmen Net Zero Emissions.

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mencapai target emisi nol bersih atau net zero emissions (NZE) pada tahun 2060. Langkah ini dipastikan tetap berjalan meski Amerika Serikat baru-baru ini menyatakan keluar dari Perjanjian Paris.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa agenda transisi energi tetap menjadi prioritas utama. Hal ini dilakukan demi menjaga ketahanan energi nasional yang menjadi visi utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, seperti dilansir dari Investortrust.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa pengembangan energi hijau terus dipacu. Kebijakan ini selaras dengan arahan Menteri ESDM dan amanat Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengenai Satgas Hilirisasi dan Ketahanan Energi.

"Kami berusaha untuk terus mengembangkan energi terbarukan sesuai arahan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan sejalan dengan Keputusan Presiden No. 1/2025 tentang Satuan Tugas Hilirisasi Industri dan Ketahanan Energi. Kami tetap berada pada jalur untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060," kata Eniya.

Terkait pengaruh kebijakan luar negeri Amerika Serikat, Eniya mengakui adanya dinamika pertanyaan dari dunia internasional. Muncul kekhawatiran mengenai potensi hambatan investasi asing pada proyek-proyek energi terbarukan di tanah air.

"Secara internasional, banyak yang mempertanyakan arah masa depan Indonesia. Namun, Menteri Bahlil Lahadalia telah menegaskan bahwa kita harus melangkah maju secara mandiri, dengan cara kita sendiri," ujar Eniya.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 100 gigawatt (GW). Dari total target tersebut, porsi sebesar 75 persen akan bersumber dari energi baru terbarukan.

Utusan Khusus Presiden untuk Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyebutkan bahwa pengembangan energi ini masuk dalam daftar proyek strategis. Pengelolaannya akan berada di bawah naungan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara.

Investasi tahap pertama yang direncanakan mencapai 20 miliar dolar AS akan digunakan untuk menyokong sekitar 20 proyek strategis nasional. Sektor yang disasar meliputi hilirisasi nikel, bauksit, tembaga, pusat data kecerdasan buatan (AI), kilang minyak, hingga kilang petrokimia.

Selain itu, dana tersebut juga akan dialokasikan untuk sektor ketahanan pangan, produksi protein, akuakultur, serta inisiatif energi terbarukan lainnya. Fokus ini diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi nasional sekaligus memenuhi tanggung jawab lingkungan global.

Artikel terkait

Rekomendasi