Indonesia Re Dorong Penguatan Ketahanan Siber Sektor Asuransi

Indonesia Re Dorong Penguatan Ketahanan Siber Sektor Asuransi
Foto: Ilustrasi Indonesia Re Dorong Penguatan Ketahanan Siber Sektor Asuransi.

Akselerasi transformasi digital memicu efisiensi sekaligus menaikkan risiko serangan siber serta kebocoran data pada industri jasa keuangan. Sektor asuransi menjadi salah satu yang paling rentan karena mengelola data sensitif dalam volume besar.

Merespons situasi tersebut, Indonesia Re mengadakan iLearn Thematic Webinar bertajuk 'The Rising Cost of Cyber Risk: Why Cyber Insurance Matters More Than Ever' pada Selasa (12/5/2026), seperti dikutip dari Investor Daily. Forum ini melibatkan para pakar untuk mengulas penguatan sistem pertahanan digital.

Sektor keuangan dan asuransi menjadi sasaran utama peretas akibat tingginya nilai ekonomis dari data nasabah dan transaksi digital yang dikelola. Kepala Divisi Indonesia Re Institute Adi Putra memaparkan konsekuensi dari ancaman tersebut.

"Dampak terbesar sering kali bukan hanya kerugian finansial, tetapi reputational damage akibat kebocoran data atau gangguan layanan," ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (19/5/2026).

Menurut Adi Putra, runtuhnya kepercayaan publik menimbulkan kerugian jangka panjang yang jauh lebih masif bagi perusahaan. Oleh karena itu, peningkatan cyber resilience harus diposisikan sebagai prioritas strategis.

Asuransi siber kini berevolusi menjadi instrumen mitigasi dan bagian strategi proteksi organisasi dalam menghadapi kejahatan digital global. Pola ancaman ini terus berkembang seiring kehadiran kecerdasan buatan (AI) hingga quantum computing.

Kondisi riil di lapangan dinilai masih memerlukan banyak pembenahan dari sisi kesadaran keamanan digital. Ahli Kriptografi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dedy Septono mengungkapkan kecenderungan institusi saat ini.

"Banyak institusi masih bersikap reaktif, padahal ancaman siber bisa mengganggu seluruh operasional bisnis," katanya.

Dedy Septono turut memberi peringatan mengenai tindakan berisiko di lingkungan kerja, seperti penggunaan pos-el kantor untuk keperluan media sosial. Tindakan tersebut berpotensi membuka celah kebocoran data penting.

Manajemen risiko siber modern dituntut untuk melampaui sekadar tindakan pencegahan. Chairman ICPAP sekaligus Vice Chairman for AI & PDP KADIN Eryk Budi Pratama menitikberatkan pada aspek pemulihan sistem.

"Organisasi tidak hanya perlu fokus pada prevention, tetapi juga response dan recovery agar operasional tetap berjalan saat insiden terjadi," ujarnya.

Perlindungan data dan tata kelola kecerdasan buatan kini bernilai semakin krusial mengingat data training telah menjadi aset strategis organisasi. Sifat ancaman yang kian kompleks menuntut pola penanganan yang terintegrasi.

Kepala Program Studi Teknik Informatika ITB Yudistira Dwi Wardhana Asnar menjabarkan pentingnya implementasi collaborative security lintas sektor demi membangun benteng pertahanan yang solid.

"Cyber insurance menjadi bagian penting dalam risk transfer dan risk financing untuk melengkapi upaya pencegahan," jelasnya.

Melalui pelaksanaan iLearn Program ini, Indonesia Re berupaya memacu kesadaran pelaku industri asuransi terhadap urgensi ketahanan digital. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk membangun ekosistem pengelolaan risiko yang adaptif.

Artikel terkait

Rekomendasi