Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi paling menguntungkan di kawasan Asia Tenggara dengan tingkat pengembalian yang melampaui negara-negara tetangga. Langkah strategis ini menempatkan Indonesia di posisi teratas dalam peta investasi regional.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa mayoritas penanaman modal di tanah air berhasil membukukan keuntungan. Seperti dikutip dari Investortrust, performa ini menjadi daya tarik utama bagi para pengelola dana global dan perusahaan multinasional.
Kebijakan hilirisasi komoditas mentah menjadi pendorong utama efisiensi industri di dalam negeri. Melalui pengolahan bahan baku lokal, tercipta ekosistem produksi yang efisien dengan biaya operasional yang kompetitif.
Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Indonesia mencatatkan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) pada kisaran 1.0 hingga 3.0. Angka ini mencerminkan efisiensi modal yang sangat tinggi di tingkat global.
"Ada studi dari JETRO yang mengatakan apa yang membedakan Indonesia dari negara ASEAN lainnya adalah kontribusi terhadap keuntungan. Sebanyak 60% investasi di Indonesia menghasilkan keuntungan. Ini adalah salah satu daya tarik utama kami," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Kementerian Investasi pada 23 April 2026.
Pemerintah juga berupaya menjaga daya saing biaya lahan dan energi, terutama di pusat manufaktur Jawa. Proyek jaringan listrik Sumatra-Java terus dipercepat untuk mengalirkan kelebihan energi terbarukan dan geotermal guna memenuhi kebutuhan industri dalam tiga tahun ke depan.
Realisasi investasi pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai Rp 498,79 triliun atau setara 31,37 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan yang kuat sebesar 7,22% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Sektor hilirisasi menyumbang hampir 30% dari total investasi dengan nilai mencapai Rp 147,5 trillion atau 9,27 miliar dolar AS pada kuartal pertama. Menteri Investasi Rosan Roeslani menyebutkan bahwa 75,5% dari proyek hilirisasi tersebut berlokasi di luar Pulau Jawa.
Sulawesi dan Maluku Utara menjadi wilayah utama penyerapan modal berkat cadangan nikel yang melimpah. Sektor nikel sendiri berhasil menarik modal baru sebesar Rp 41,5 triliun atau sekitar 2,61 miliar dolar AS selama tiga bulan pertama tahun ini.
Di samping sektor pertambangan, pemerintah meluncurkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025. Langkah ini diambil untuk mempercepat perizinan pada sektor kecerdasan buatan (AI), ekonomi digital, dan kerangka kerja bullion bank.
Fundamental makroekonomi Indonesia juga menunjukkan ketahanan terhadap gejolak pasar global. Negara ini mencetak surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut dengan cadangan devisa yang sehat sebesar 148,2 miliar dolar AS.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sementara itu, Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur tetap berada di zona ekspansi di atas angka netral 50,0.
Defisit anggaran belanja negara juga terkendali ketat pada angka 0,93% dari PDB hingga Maret 2026. Posisi fiskal yang kuat ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk mendukung proyek infrastruktur dan transisi energi.