Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat perdagangan kelas dunia yang mampu bersaing dengan Singapura dan Hong Kong, seperti dikutip dari Media Indonesia. Optimisme ini muncul di tengah dinamika pasar keuangan global serta tantangan yang sedang dihadapi pasar domestik.
Fondasi ekonomi Indonesia dianggap memberikan dasar yang kokoh untuk menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan dan investasi terbesar di Asia. Pandangan tersebut disampaikan oleh Dato' Dr. Nazri Khan (DDNK), trader asal Malaysia yang meraih gelar Juara Dunia dalam World Cup Trading Championship Robbins Cup 2024.
Pasar keuangan domestik saat ini memang tengah menghadapi sejumlah tekanan, termasuk tren pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dipantau oleh penyedia indeks global. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memicu pertanyaan mengenai kesiapan Indonesia naik kelas.
Meski begitu, situasi tersebut dinilai sebagai tantangan jangka pendek yang tidak mengubah prospek besar negara ini dalam jangka panjang.
"Sebagai juara dunia trading technical analysis, saya melihat pasar Indonesia memiliki potensi yang sangat tinggi untuk menjadi world-class trading hub seperti Hong Kong Stock Exchange dan Singapore Stock Exchange," ujar DDNK.
Kekuatan strategis Indonesia dinilai sulit ditandingi oleh negara lain karena statusnya sebagai anggota G20 dengan ukuran ekonomi besar serta pasar domestik yang kuat. Faktor demografi berupa populasi mendekati 300 juta jiwa yang mayoritas berusia produktif dan pertumbuhan cepat kelas menengah turut mendukung pasar modal nasional.
"Indonesia memiliki pasar domestik yang sangat besar, populasi yang muda, pertumbuhan kelas menengah yang pesat, serta lokasi strategis di antara China dan India. Jika memainkan kartunya dengan tepat, Indonesia mampu bersaing dengan Singapura maupun Hong Kong," kata DDNK.
Selain faktor demografi, kekuatan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh sumber daya alam komoditas strategis seperti nikel dan batu bara untuk rantai pasok industri global. Sektor digital Indonesia juga menguat signifikan dengan basis pengguna platform besar seperti TikTok dan Instagram yang masif.
Namun, transformasi menuju pusat perdagangan internasional mengharuskan Indonesia memperkuat infrastruktur pasar keuangan dan meningkatkan likuiditas instrumen investasi bagi para pelaku pasar profesional.
"Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki agar Bursa Efek Indonesia dapat setara dengan pasar saham kelas dunia. Bagi trader profesional seperti saya, salah satu faktor penting adalah tersedianya produk dan instrumen yang likuid," jelas DDNK.
Langkah percepatan ini membutuhkan pendalaman pasar, diversifikasi instrumen investasi, penguatan regulasi berdaya saing global, serta kemudahan akses investor internasional.