Indonesia Filipina Perkuat Industri Nikel Lewat Aliansi Strategis

Indonesia Filipina Perkuat Industri Nikel Lewat Aliansi Strategis
Foto: Ilustrasi Indonesia Filipina Perkuat Industri Nikel Lewat Aliansi Strategis.

Pemerintah Indonesia dan Filipina resmi memperkuat sinergi strategis pada industri nikel melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation oleh APNI dan PNIA di Jakarta, Jumat (8/5/2026). Kerja sama ini bertujuan membentuk platform terstruktur untuk menghubungkan sektor hulu dan hilir kedua negara.

Kesepakatan tersebut dilakukan dalam pertemuan Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto dan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina A. Roque. Kolaborasi ini mencakup pertukaran informasi hingga pengembangan teknologi hilirisasi.

"Kolaborasi ini bukan sekadar kerja sama biasa. Ini adalah fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina. Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Penegasan tersebut menandai langkah awal pembentukan koridor nikel yang akan mengintegrasikan pasokan bahan mentah dengan fasilitas pengolahan. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik Finance, kemitraan ini juga difokuskan pada pemanfaatan nilai tambah produk sampingan industri serta pengembangan sumber daya manusia berkelanjutan.

"Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi, sementara Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat kita. Hal ini sejalan dengan arahan KTT AECC ke-27 untuk memperkuat rantai pasok kritis di kawasan ASEAN," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Airlangga menambahkan bahwa sinergi ini akan membantu pemenuhan rasio silikon terhadap magnesium (Si:Mg) pada smelter di Indonesia melalui proses pencampuran dengan bijih asal Filipina. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas produksi industri baja dan baterai nasional.

"Dengan demikian, hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan," kata Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI.

Integrasi kedua negara ini memiliki dampak besar mengingat posisi mereka sebagai produsen nikel terbesar di dunia. Data United States Geological Survey (USGS) 2026 mencatat bahwa gabungan produksi Indonesia dan Filipina mencapai 73,6 persen dari total produksi nikel global pada tahun 2025.

Data Produksi dan Cadangan Nikel 2025-2026
NegaraProduksi (Ton)Pangsa Produksi DuniaCadangan Dunia
Indonesia2.600.00066,7%44,5% (62 Juta Ton)
Filipina270.0006,9%3,4% (4,8 Juta Ton)
Total Gabungan2.870.00073,6%47,9%

Hilirisasi nikel di Indonesia sendiri telah menunjukkan pertumbuhan masif dengan nilai ekspor produk olahan mencapai US$ 9,73 miliar pada 2025. Pemerintah memproyeksikan total investasi dapat menyentuh angka US$ 47,36 miliar dengan target penyerapan 180.600 tenaga kerja hingga tahun 2030 mendatang.

Artikel terkait

Rekomendasi