Indointernet Tunjuk Donauly Situmorang Jadi CEO dan Berencana Delisting

Indointernet Tunjuk Donauly Situmorang Jadi CEO dan Berencana Delisting
Foto: Ilustrasi Indointernet Tunjuk Donauly Situmorang Jadi CEO dan Berencana Delisting.

PT Indointernet Tbk. (EDGE) resmi menetapkan Donauly Situmorang sebagai Chief Executive Officer (CEO) baru untuk memimpin arah strategis perusahaan ke depan.

Langkah ini dilansir dari Teknologi sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur kepemimpinan perusahaan di tengah rencana ekspansi infrastruktur digital dalam skala besar.

Andrew Rigoli yang sebelumnya menjabat sebagai CEO kini berpindah tugas ke jajaran Dewan Komisaris untuk tetap mengawal arah kebijakan perusahaan secara strategis.

Donauly Situmorang dikenal memiliki pengalaman yang luas dalam memperkokoh pondasi keuangan perusahaan selama masa jabatannya sebelumnya.

Ia telah menduduki posisi Chief Financial Officer (CFO) Indonet sejak 2021 dan menjadi aktor penting dalam berbagai aksi ekspansi strategis selama lima tahun terakhir.

Penetapan pimpinan baru ini dilakukan bersamaan dengan pengumuman capaian kinerja keuangan perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan signifikan sepanjang tahun 2025.

Kinerja Finansial dan Operasional 2025

Emiten infrastruktur digital ini berhasil membukukan pendapatan bersih mencapai Rp842,1 miliar berkat tingginya permintaan pasar terhadap layanan digital berkualitas.

Pertumbuhan yang paling mencolok terjadi pada lini bisnis pusat data (data center) yang melonjak hingga 48 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, segmen bisnis jaringan juga memberikan kontribusi positif dengan mencatatkan angka pertumbuhan sebesar 22 persen sepanjang tahun lalu.

"2025 menjadi tahun yang kuat bagi Indonet, di mana kami berhasil menerjemahkan pertumbuhan kebutuhan digital menjadi kinerja yang nyata di bisnis jaringan dan data center," kata Donauly.

Ekspansi Pusat Data dan Strategi Delisting

Saat ini, pusat data EDGE1 milik perusahaan telah terisi penuh oleh pelanggan, sedangkan fasilitas EDGE2 tercatat sudah terkontrak sebesar 70 persen hingga akhir 2025.

Permintaan yang masif ini didorong oleh kebutuhan dari sektor korporasi besar, pemain hyperscaler, serta para penyedia layanan berbasis komputasi awan (cloud).

Fokus perusahaan saat ini bergeser pada pengembangan kampus pusat data hyperscale di kawasan industri GIIC dengan kapasitas awal sebesar 500 megawatt (MW).

Fasilitas raksasa tersebut diproyeksikan mampu ditingkatkan kapasitasnya hingga 1 gigawatt (GW) guna mengakomodasi beban kerja berbasis kecerdasan buatan (AI) di masa depan.

Selain fokus pada infrastruktur, Indonet mengumumkan rencana untuk melakukan penghapusan pencatatan saham secara sukarela atau voluntary delisting dari Bursa Efek Indonesia.

Keputusan strategis ini diambil demi meningkatkan kelincahan dan kecepatan eksekusi perusahaan dalam menghadapi persaingan ketat di sektor infrastruktur digital global.

Melalui integrasi yang lebih erat dengan Digital Edge Group, perusahaan berharap proses pengambilan keputusan dan alokasi modal dapat berjalan lebih optimal untuk investasi jangka panjang.

Artikel terkait

Rekomendasi