India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar Ketiga Indonesia Tahun 2026

India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar Ketiga Indonesia Tahun 2026
Foto: Ilustrasi India Jadi Tujuan Ekspor Terbesar Ketiga Indonesia Tahun 2026.

Hubungan ekonomi antara India dan Indonesia mengalami percepatan signifikan dengan nilai perdagangan bilateral rata-rata mencapai 30 miliar dolar AS dalam tiga tahun terakhir. Dilansir dari Investortrust, pencapaian ini menempatkan India sebagai tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia.

Duta Besar Sandeep Chakravorty menyatakan bahwa India telah menggeser posisi Jepang sebagai pembeli produk Indonesia. Saat ini, Indonesia juga tercatat sebagai mitra dagang terbesar kedelapan bagi India.

"Kami berada di posisi keempat sekitar satu atau dua tahun yang lalu," ujar Chakravorty dalam forum bisnis India Night 2026 di Jakarta pada Rabu, 28 Januari 2026.

Salah satu pilar utama dalam fase kerja sama berikutnya adalah integrasi infrastruktur digital. Pejabat dari kedua negara sedang berupaya menghubungkan sistem QRIS Indonesia dengan Unified Payments Interface (UPI) milik India.

Langkah ini bertujuan untuk menyederhanakan pembayaran lintas batas bagi konsumen dan pelaku usaha. Fokus utama diberikan kepada pedagang kecil yang terlibat dalam perdagangan bilateral antara kedua negara.

Selain sistem pembayaran, Chakravorty menyoroti rencana peluncuran Indonesia Open Network atau ION. Platform ini mengadopsi model Open Network for Digital Commerce dari India yang memungkinkan UMKM bertransaksi langsung dengan biaya minimal.

"Ini mungkin menjadi pengubah permainan," kata Chakravorty. Ia menambahkan bahwa keputusan tersebut telah difinalisasi saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke India tahun lalu.

Investasi Sektor Kesehatan dan Ketahanan Pangan

Perusahaan India mulai merealisasikan momentum diplomatik menjadi investasi fisik. Rantai rumah sakit besar mulai membangun fasilitas di Batam, sementara pabrik manufaktur farmasi sedang dibangun di beberapa wilayah untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.

Ketahanan pangan juga menjadi jangkar kerja sama penting di bawah pemerintahan Presiden Prabowo. Konglomerat asal India, Tata dan Mahindra, telah mengamankan kontrak besar untuk memasok kendaraan pertanian serta truk.

Rencana perakitan lokal juga tengah disiapkan guna mendukung modernisasi logistik pertanian di Indonesia. Sektor ini menjadi prioritas utama dalam memperkuat hubungan bilateral kedua negara.

Tantangan Industri Baja dan Proyeksi 2026

Meski ekspansi berjalan cepat, terdapat hambatan pada sektor baja akibat ketidakseimbangan regulasi. Baja yang diimpor dari India dikenakan bea masuk 5 persen, sedangkan ekspor baja Indonesia ke India bebas bea masuk berdasarkan perjanjian ASEAN-India yang sudah berusia 15 tahun.

Ketidakseimbangan ini berdampak pada hengkangnya investor besar seperti Lakshmi Mittal dan Jindal Steel dari Indonesia. Dumping baja dinilai membuat produsen yang didukung modal India berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.

"Setiap negara mencari investasi baru, namun menurut saya tantangannya adalah mempertahankan investor yang sudah ada agar tetap puas," tutur Chakravorty.

Ia mengusulkan pembentukan kelompok kerja bilateral untuk menyelesaikan persoalan aturan dan mempercepat penyelesaian sengketa. Hal ini dianggap krusial guna mencegah kepergian investor lebih lanjut.

Tahun 2026 dipandang sebagai periode penting seiring bergabungnya Indonesia ke BRICS tahun lalu. Perdana Menteri Narendra Modi dijadwalkan mengunjungi Indonesia pada semester pertama 2026 untuk memajukan kesepakatan strategis dan ekonomi.

Chakravorty menegaskan kepada para investor bahwa hubungan kedua negara kini tidak lagi sekadar simbolisme. Skala perdagangan dan jaringan digital telah mengikat ekonomi kedua negara lebih erat dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Artikel terkait

Rekomendasi