Harga pangan global kembali mengalami kenaikan pada periode April 2026. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan tren penguatan ini terjadi selama tiga bulan berturut-turut.
Dilansir dari Money, kenaikan indeks harga pangan dunia ini dipicu oleh lonjakan harga minyak nabati. Faktor utamanya adalah meningkatnya biaya energi serta tingginya permintaan untuk sektor biofuel secara global.
Data terbaru FAO menunjukkan Food Price Index (FFPI) rata-rata berada pada level 130,7 poin pada April 2026. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 1,6 persen jika dibandingkan dengan posisi Maret 2026.
Level indeks saat ini merupakan yang tertinggi sejak Februari 2023. Meskipun demikian, angka pada April 2026 tersebut masih terpantau 18,4 persen di bawah rekor tertinggi yang pernah terjadi pada Maret 2022.
Indeks harga minyak nabati FAO menjadi motor utama kenaikan dengan lonjakan 5,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Pencapaian ini menjadi level tertinggi sejak Juli 2022 bagi komoditas tersebut.
Peningkatan harga minyak sawit internasional telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut hingga April 2026. Kebijakan insentif biofuel di negara produsen menjadi salah satu pendorong permintaan yang kuat.
Kepala Ekonom FAO Maximo Torero menjelaskan bahwa tingginya biaya energi dunia berdampak langsung pada komoditas ini. Hal tersebut meningkatkan daya tarik minyak nabati sebagai bahan baku bahan bakar alternatif.
Selain faktor energi, konflik di Timur Tengah turut memberikan tekanan besar. Gangguan pada jalur perdagangan energi global membuat harga minyak mentah melonjak, yang kemudian berimbas pada pasar komoditas pangan.
Kenaikan Harga Serealia dan Daging
Indeks harga serealia FAO juga merangkak naik tipis 0,8 persen pada April 2026. Kenaikan ini didominasi oleh pergerakan harga gandum dan beras di pasar internasional.
Harga gandum terpengaruh oleh kekhawatiran terhadap kondisi produksi di negara-negara produsen utama. Selain itu, faktor cuaca ekstrem di Eropa dan Amerika Serikat sejak awal tahun turut mengganggu stabilitas pasokan.
Di sektor peternakan, indeks harga daging FAO meningkat 1,2 persen. Kondisi ini dipicu oleh terbatasnya suplai sapi dari Brasil serta tingginya permintaan musiman untuk daging babi di kawasan Uni Eropa.
Penurunan Harga Gula dan Produk Susu
Berbeda dengan komoditas lain, indeks harga gula FAO justru menyusut 4,7 persen pada April 2026. Penurunan ini terjadi seiring dengan membaiknya prospek produksi di India dan Thailand.
Harga produk susu juga mengalami pelemahan yang membantu menahan laju kenaikan indeks pangan secara keseluruhan. Penurunan harga mentega dan susu bubuk terjadi akibat melemahnya permintaan impor dari pasar global.
FAO memperkirakan produksi serealia dunia tahun 2025 tetap optimis dengan target rekor 3,04 miliar ton. Meski demikian, pergerakan harga energi tetap menjadi variabel kunci yang menentukan arah harga pangan sepanjang tahun 2026.