Ketergantungan Impor Kedelai Tekan Margin Usaha Perajin Tempe Nasional

Ketergantungan Impor Kedelai Tekan Margin Usaha Perajin Tempe Nasional
Foto: Ilustrasi Ketergantungan Impor Kedelai Tekan Margin Usaha Perajin Tempe Nasional.

Ketergantungan tinggi terhadap impor kedelai memicu ketidakstabilan harga bahan baku yang menekan margin usaha perajin tempe dan tahu di Indonesia. Kondisi ini membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) rentan terhadap gejolak ekonomi global serta depresiasi nilai tukar rupiah.

Dilansir dari Megapolitan, pakar ekonomi M Rizal Taufikurahman menyebutkan bahwa kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,6 hingga 2,7 juta ton per tahun. Namun, kemampuan produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai sekitar 200 hingga 300 ribu ton dari total kebutuhan tersebut.

ÔÇ£Artinya lebih dari 85 persen dipenuhi impor. Dengan struktur seperti ini, setiap depresiasi rupiah misalnya bergerak di kisaran Rp 17.000 per USD langsung meningkatkan biaya bahan baku di dalam negeri tanpa ada buffer produksi domestik,ÔÇØ ungkap Rizal.

Rizal menjelaskan bahwa industri berbasis kedelai sangat bergantung pada dinamika pasar global, termasuk kenaikan harga energi dunia yang memengaruhi biaya logistik. Rantai pasok global dinilai belum sepenuhnya efisien setelah mengalami disrupsi geopolitik.

ÔÇ£Naiknya harga energi ini mendorong kenaikan ongkos logistik dan freight, sementara rantai pasok global masih belum sepenuhnya efisien pasca disrupsi geopolitik,ÔÇØ kata Rizal.

Selain kedelai, kenaikan harga minyak mentah dunia juga mengerek harga plastik kemasan berbasis resin. Kenaikan biaya ini menjadi beban tambahan bagi para pelaku usaha kecil yang menggunakan plastik dalam proses produksinya.

ÔÇ£Plastik berbasis resin yang diturunkan dari minyak mengalami kenaikan harga seiring Indonesian Crude Price (ICP) yang sudah menembus di atas 100 US Dollar per barel,ÔÇØ ujar Rizal.

Meskipun biaya kemasan sering dianggap kecil, secara agregat pengeluaran tersebut berdampak signifikan bagi keberlangsungan UMKM. Biaya bahan baku yang mencapai 60 hingga 70 persen dari total produksi membuat posisi perajin berada pada kondisi sulit.

ÔÇ£Ini berdampak langsung ke biaya kemasan tempe, yang selama ini sering dianggap komponen kecil tetapi dalam agregat cukup signifikan bagi UMKM,ÔÇØ kata Rizal.

Kenaikan biaya operasional ini menyebabkan margin keuntungan perajin semakin menipis. Rizal mencatat banyak usaha skala kecil kini hanya mampu mencapai titik impas akibat tekanan biaya produksi yang sangat tinggi.

ÔÇ£Dampak langsung dari tekanan biaya ini adalah penurunan margin usaha yang cukup dalam, bahkan mendekati titik impas bagi pelaku usaha skala kecil,ÔÇØ ujar Rizal.

Anto, seorang perajin tempe di Cilincing, Jakarta Utara, mengungkapkan bahwa harga kedelai naik dari Rp 9.500 menjadi Rp 10.800 per kilogram setelah Lebaran 2026. Biaya tambahan juga muncul dari kebutuhan plastik kemasan seharga Rp 55.000 per kilogram.

ÔÇ£Satu hari (butuh) satu kilo lah ya plastik itu. Satu kilo harganya sekitar Rp 55.000,ÔÇØ ujar Anto.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengonfirmasi bahwa 95 persen pasokan kedelai di Jakarta berasal dari impor. Berdasarkan pemantauan April 2026, harga kedelai di pasar tradisional berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 22.000 per kilogram.

ÔÇ£Walaupun sebagian besar masih sesuai HAP dengan besaran harga rata-rata Rp 10.200 sampai dengan Rp 11.000 per kilogram, untuk ketersediaan kedelai di tingkat perajin secara umum cukup,ÔÇØ kata Hasudungan.

Artikel terkait

Rekomendasi