Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Singapura melambat di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan guncangan energi akibat perang di Timur Tengah. Penilaian ketahanan ekonomi Negeri Singa tersebut disampaikan dalam laporan tahunan Article IV Consultation yang dirilis pada Selasa (19/5/2026).
Kondisi ekonomi Singapura dinilai tetap resilien menghadapi risiko penurunan pertumbuhan serta kenaikan inflasi, dilansir dari Money. Rekam jejak menunjukkan negara ini memasuki periode ketidakpastian dari posisi yang kuat dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 3,9 persen pada periode 2023-2025.
Kepala Misi IMF untuk Singapura Masahiro Nozaki memimpin konsultasi tahunan yang mencatat sistem keuangan domestik tetap tangguh dengan perbankan yang memiliki modal kuat dan likuiditas memadai. Guncangan ekonomi diredam oleh ketersediaan cadangan fiskal yang substansial.
"Singapura sedang menghadapi tahun lain dengan ketidakpastian global yang meningkat. Terutama, perang di Timur Tengah berdampak pada perekonomian melalui guncangan energi," tulis IMF dalam pernyataannya.
Cadangan kas negara yang kuat dinilai krusial untuk menghadapi ketidakpastian global yang sedang berlangsung saat ini. Ketahanan tersebut terbukti dalam pengelolaan krisis masa lalu.
"Cadangan fiskal yang substansial, yang telah berhasil digunakan dalam menghadapi guncangan besar seperti pandemi COVID, tetap tersedia," kata IMF.
Proyeksi pertumbuhan Singapura kini diturunkan menjadi 3,5 persen pada 2026 dan diperkirakan kembali turun ke angka 2,7 persen pada 2027. Sektor perdagangan dan industri padat energi mendapatkan tekanan langsung dari disrupsi pasokan jangka pendek.
"Kenaikan harga input dan gangguan rantai pasokan yang berumur pendek memberikan tekanan pada industri yang padat energi dan terkait perdagangan," tulis IMF.
Meskipun perdagangan global melambat, pertumbuhan Singapura terbantu oleh lonjakan tren kecerdasan buatan (AI) global. Sektor teknologi terus menerima dampak positif dari siklus tersebut.
"Tren peningkatan teknologi yang sedang berlangsung karena booming AI global terus memberikan dorongan positif bagi Singapura," lanjut IMF.
IMF memperkirakan headline inflation Singapura naik menjadi 2,6 persen pada 2026 sebelum turun ke 1,9 persen pada 2027. Ancaman inflasi jangka panjang masih mengintai apabila konflik Timur Tengah terus meluas.
"Kenaikan harga energi dan kelangkaan pupuk serta produk petrokimia tidak hanya dapat menimbulkan tekanan inflasi yang meluas, tetapi juga melemahkan permintaan domestik dan eksternal," kata IMF.
Langkah pengetatan moneter yang diambil oleh Monetary Authority of Singapore (MAS) pada April 2026 dinilai sudah tepat. Intervensi kebijakan moneter tersebut efektif menjaga stabilitas ekspektasi inflasi domestik.
"Staf menilai bahwa pengetatan kebijakan moneter pada April 2026 sudah tepat dan membantu menjaga ekspektasi inflasi tetap terkendali di tengah kenaikan harga energi domestik," tulis IMF.
Otoritas moneter diimbau untuk terus memantau indikator ekonomi riil dalam mengambil keputusan ke depan. Antisipasi diperlukan terhadap potensi munculnya efek inflasi putaran kedua.
"MAS (Otoritas Moneter Singapura) harus tetap bergantung pada data dan siap untuk memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan inflasi putaran kedua muncul," lanjut IMF.
Surplus anggaran Singapura diperkirakan turun menjadi 1 persen terhadap PDB pada tahun fiskal 2026 karena kenaikan belanja pembangunan. Pemerintah diimbau menyalurkan bantuan secara selektif kepada sektor terdampak tanpa memicu inflasi.
"Pemerintah harus siap memberikan dukungan sementara dan terarah bagi rumah tangga dan bisnis yang terdampak perang di Timur Tengah. Namun, kebijakan fiskal harus diterapkan dengan hati-hati agar tidak memperburuk tekanan inflasi," tulis IMF.
Kondisi sektor keuangan dilaporkan tetap kokoh dengan profitabilitas dan kualitas aset bank yang terjaga baik. Berdasarkan pengujian stres, risiko sistemik dari pasar perumahan masih berada dalam batas aman.
"Bank-bank memiliki permodalan yang baik, likuiditas yang tinggi, dan profitabilitas yang menguntungkan, didukung oleh kualitas aset yang kuat," terang IMF.
Otoritas moneter diharapkan tetap memitigasi risiko dari eksposur lintas negara serta keterkaitan lembaga keuangan non-bank. Upaya pengawasan yang berjalan sejauh ini mendapat apresiasi positif.
"Staf menyambut baik upaya berkelanjutan dari pihak berwenang untuk memperkuat pengujian stres, meningkatkan pengawasan terhadap lembaga keuangan non-bank (NBFI), dan terlibat dalam perencanaan kontingensi," lanjut IMF.
Pemerintah Singapura mengintegrasikan AI ke dalam strategi pertumbuhan nasional melalui berbagai inisiatif anggaran tahun fiskal 2026. Struktur pasar tenaga kerja lokal yang didominasi pekerja terampil dinilai rentan terhadap disrupsi teknologi ini.
"AI telah dijadikan strategi pertumbuhan nasional dan anggaran tahun fiskal 2026 mencakup inisiatif untuk mendukung adopsi AI oleh perusahaan," sebut IMF.
Langkah mitigasi berupa pelatihan ulang ketrampilan tenaga kerja dijalankan untuk mengantisipasi transisi teknologi tersebut. Program peningkatan kompetensi pekerja lokal terus mendapatkan dukungan penuh.
"Para staf (IMF) menyambut baik upaya berkelanjutan pemerintah dalam meningkatkan dan memperbarui keterampilan tenaga kerja Singapura," kata lembaga tersebut.