Dana Moneter Internasional (IMF) resmi menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi global pada Selasa (14/4/2026) menyusul lonjakan harga energi yang dipicu oleh eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah. Lembaga tersebut menilai gangguan pasokan energi di Selat Hormuz berisiko menyeret dunia ke dalam skenario pertumbuhan yang jauh lebih lemah.
Dilansir dari Detik Finance mengutip Reuters pada Rabu (15/4/2026), IMF merilis tiga skenario utama yakni lemah, buruk, dan sangat parah yang semuanya bergantung pada durasi peperangan. Dalam skenario terburuk, ekonomi dunia terancam mengalami resesi dengan rata-rata harga minyak mencapai US$ 110 per barel pada 2026.
Skenario risiko sedang memprediksi konflik berlangsung lebih lama sehingga harga minyak bertahan di angka US$ 100 per barel tahun ini. Kondisi ini diprediksi menyebabkan pertumbuhan global merosot menjadi 2,5% pada 2026, turun signifikan dari capaian 3,4% pada tahun 2025.
Jika konflik dapat segera diakhiri, IMF memproyeksikan skenario terbaik dengan normalisasi harga minyak pada angka US$ 82 per barel di paruh kedua 2026. Namun, prospek tersebut terancam tidak relevan seiring dengan ketidakpastian jalur penghentian konflik di lapangan yang terus berlanjut.
"Saya akan mengatakan bahwa kita berada di antara skenario sedang dan skenario buruk. Dan tentu saja, setiap hari yang berlalu dan setiap hari kita mengalami lebih banyak gangguan di bidang energi, kita semakin mendekati skenario buruk," kata Pierre-Olivier Gourinchas, Kepala Ekonom IMF.
Tanpa adanya hambatan geopolitik di Timur Tengah, pertumbuhan ekonomi global sebenarnya berpotensi menguat hingga 3,4%. Optimisme tersebut sebelumnya didorong oleh peningkatan investasi teknologi, kebijakan suku bunga rendah, serta dukungan fiskal di berbagai negara.
IMF juga memproyeksikan tekanan harga minyak bisa berlanjut hingga tahun 2027 dengan potensi harga mencapai US$ 125 per barel pada skenario terparah. Hingga saat ini, pemantauan terhadap stabilitas jalur distribusi energi global masih terus dilakukan oleh otoritas moneter internasional tersebut.