Lautan menyimpan jejak biologis tersembunyi dari kehidupan biota di dalamnya. Saat berenang, lumba-lumba secara konstan melepaskan sel kulit, lendir, hingga fragmen DNA yang disebut sebagai DNA lingkungan atau eDNA.
Sebuah studi dari jurnal Frontiers in Marine Science mengungkapkan bahwa sampel air laut kini dapat digunakan untuk memetakan keanekaragaman genetik seluruh populasi lumba-lumba secara akurat. Metode ini sama sekali tidak menyentuh satwa tersebut, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Riset genetika lumba-lumba selama ini menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan. Padahal, variasi genetik yang tinggi merupakan indikator krusial untuk mengukur ketahanan populasi terhadap ancaman penyakit serta perubahan habitat.
Secara tradisional, para peneliti harus mendekati mamalia laut ini menggunakan kapal. Mereka menembakkan dart biopsi demi mengambil sampel kulit dan lemak, sebuah proses yang membutuhkan keahlian tinggi, kondisi laut tenang, waktu berminggu-minggu, serta sering kali minim hasil.
Penelitian inovatif ini berlangsung di dekat Pulau Santa Catalina pada akhir 2021. Tim ahli mengumpulkan 126 sampel air laut yang masing-masing hanya bervolume dua liter, diambil dalam radius sepuluh meter dari kawanan empat spesies lumba-lumba.
Melalui proses laboratorium, air tersebut disaring untuk mengekstrak dan menggandakan bagian DNA mitokondria yang bervariasi antar-individu.
"Di sini kami menunjukkan bahwa pengambilan sampel eDNA secara berulang dapat digunakan untuk memperkirakan keanekaragaman genetik lumba-lumba yang hidup dalam kelompok besar dan memiliki populasi yang sangat besar," kata Dr. Frederick Archer dari NOAA/NMFS Southwest Fisheries Science Center.
"Ini penting karena keanekaragaman genetik, sebagai ukuran hasilnya, dapat digunakan sebagai tolok unwuk ukuran populasi dan seberapa siap suatu populasi bereaksi terhadap perubahan di lingkungannya."
Data laboratorium membuktikan tingkat kecocokan yang tinggi dengan data biologi yang telah ada sebelumnya. Lumba-lumba moncong panjang (long-beaked common dolphin) tercatat memiliki keragaman genetik paling besar.
Sebaliknya, lumba-lumba hidung botol (bottlenose) dan lumba-lumba Risso menunjukkan variasi yang lebih rendah akibat ukuran populasi yang lebih kecil.
Menariknya, materi genetik lumba-lumba Risso banyak ditemukan di berbagai sampel meskipun ilmuwan tengah melacak spesies lain. Peneliti menduga perilaku sosial mereka yang kasar dan kerap meninggalkan bekas luka gigitan menyebabkan spesies ini melepaskan lebih banyak sel kulit ke air.
Tantangan dan Masa Depan Konservasi
Meski dinilai sangat efektif, metode eDNA masih menghadapi kendala berupa arus laut yang rentan mencampuradukkan rekam jejak genetik masa lalu. Menyadari hal itu, ilmuwan menyarankan pengambilan sampel kontrol sebelum kawanan lumba-lumba tiba di lokasi tujuan.
Walau demikian, kelebihan utama eDNA terletak pada prosedurnya yang sederhana, murah, aman bagi satwa, serta dapat direplikasi sesering mungkin dibanding teknik biopsi konvensional.
"Akan sangat baik untuk memulai program pemantauan eDNA sesegera mungkin yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan. Sebagai contoh, kita akan dapat melihat bagaimana komposisi spesies di area yang sangat kecil berubah sepanjang tahun, termasuk spesies yang lebih langka yang jarang kita deteksi pada survei visual," ujar Archer.
"Ini dapat memberi kita banyak informasi tentang penggunaan habitat dan juga berpotensi memungkinkan kita mengamati bagaimana perubahan lingkungan serta dampak antropogenik seperti polusi atau suara bawah air memengaruhi distribusi spesies.""