Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) mendesak pemerintah untuk segera memperkuat langkah perlindungan bagi sektor baja nasional pada Selasa (12/5/2026). Upaya penyelamatan ini diperlukan lantaran pelaku usaha lokal tengah menghadapi tekanan berat akibat serbuan produk impor murah dan penurunan permintaan domestik.
Kondisi manufaktur logam dalam negeri saat ini dinilai sedang tidak stabil akibat tingginya beban biaya produksi yang harus ditanggung pengusaha. Dilansir dari Investor Daily, faktor eksternal berupa derasnya arus masuk barang luar negeri semakin memperburuk kesehatan finansial industri baja di Indonesia.
Direktur Eksekutif IISIA, Harry Warganegara, menyoroti ketimpangan persaingan pasar yang terjadi antara produk lokal dengan produk kiriman dari luar negeri, terutama asal China. Dominasi produk asing ini terlihat dari persentase ketergantungan pasar nasional terhadap komoditas impor yang masih sangat tinggi.
"IISIA mencatat sekitar 55% kebutuhan baja nasional saat ini masih dipenuhi melalui impor," terang Harry Warganegara, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA).
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa separuh lebih konsumsi baja di dalam negeri belum mampu dipasok secara mandiri oleh produsen lokal. Pemerintah kini diminta untuk mengoptimalkan kebijakan teknis guna membatasi pergerakan baja impor agar ekosistem industri nasional dapat segera pulih.