Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Rabu (13/5/2026) akibat tekanan sentimen global dan domestik. Pelemahan ini dipicu oleh pengumuman rebalancing indeks MSCI serta kondisi nilai tukar rupiah yang masih tertekan di atas level Rp17.500 per dolar AS.
Berdasarkan data yang dilansir dari Investor Daily, IHSG sebelumnya ditutup merosot 0,68 persen ke posisi 6.858 dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp799 miliar di pasar reguler. Tekanan tambahan datang dari laporan Bureau of Labor Statistics terkait inflasi Amerika Serikat yang melonjak hingga 3,8 persen secara tahunan pada April 2026.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa posisi indeks saat ini sangat dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio investor institusi menjelang pemberlakuan bobot baru dalam indeks MSCI Mei 2026. Hal ini menyebabkan ruang gerak indeks menjadi lebih terbatas dengan kecenderungan terkoreksi kembali.
"Oleh karena itu, IHSG diproyeksikan akan bergerak terbatas cenderung melemah dengan level resistance terdekat pada 6.960-7.000 dan support pada 6.760-6.780," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam ulasan, Rabu (13/5/2026).
Lembaga sekuritas tersebut memantau bahwa pergerakan bursa global juga memberikan sinyal bervariasi bagi pasar domestik setelah Wall Street ditutup beragam. Meskipun indeks Dow Jones menguat tipis, Nasdaq dan S&P 500 justru berakhir di zona merah akibat kekhawatiran inflasi.
Di tengah kondisi pasar yang fluktuatif, terdapat beberapa emiten yang direkomendasikan untuk aktivitas perdagangan jangka pendek. BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi saham ARCI, INCO, dan SSIA untuk trading pada hari ini.