Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan sebesar 0,32 persen dan berakhir di level 7.106,52 pada penutupan perdagangan Senin, 27 April 2026. Meskipun sempat berada di zona hijau hampir di sepanjang sesi, tekanan jual menjelang penutupan membuat indeks gagal mempertahankan posisinya.
Dilansir dari Suara, riset dari Phintraco Sekuritas menunjukkan bahwa koreksi ini terjadi setelah indeks sempat mencoba bangkit dari tekanan yang dialami pada akhir pekan sebelumnya. Secara sektoral, pergerakan saham menunjukkan hasil yang kontras antar lini industri.
Sektor energi tercatat sebagai penekan utama indeks dengan mengalami penurunan terdalam hingga 1,21 persen. Di sisi lain, sektor material dasar atau basic material justru memberikan perlawanan dengan mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,48 persen sepanjang perdagangan.
Dilihat dari indikator teknikal, laju IHSG saat ini masih berada di bawah bayang-bayang tekanan jual yang cukup kuat. Indikator MACD terpantau telah membentuk pola death cross yang sering menjadi sinyal pelemahan lanjutan.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI kini berada di area pivot dan mulai bergerak menuju zona jenuh jual atau oversold. Kondisi teknikal ini membuat para analis memberikan proyeksi pergerakan indeks dalam rentang yang terbatas.
"IHSG diperkirakan akan bergerak sideways pada kisaran 7.000-7.250," tulis Phintraco dalam risetnya.
Sentimen Domestik dan Insentif Pajak
Dari sisi kebijakan dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji pemberian insentif pajak. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia bagi para investor.
Peluang pengurangan pajak tersebut akan terbuka jika program-program yang dijalankan oleh otoritas bursa terbukti berjalan secara efektif. Senada dengan hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mendorong pemberian stimulus fiskal sebagai bentuk penguatan pasar.
Kondisi makroekonomi nasional juga menunjukkan sisi positif melalui data investasi asing langsung (FDI) di luar sektor keuangan dan migas. Pada kuartal I-2026, FDI tumbuh 8,5 persen secara tahunan (YoY) dengan nilai mencapai Rp 250 triliun.
Pencapaian ini melanjutkan tren kenaikan pada kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,3 persen YoY. Sektor industri logam dasar menjadi kontributor terbesar arus investasi asing dengan nilai mencapai 3,7 miliar dolar AS.
Pergerakan Bursa Regional Asia
Kondisi di pasar modal Indonesia berbanding terbalik dengan mayoritas bursa di kawasan Asia yang justru ditutup menguat. Investor di tingkat regional tampak cenderung mengabaikan dinamika diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih mandek.
Indeks Nikkei 225 di Jepang dan Kospi di Korea Selatan bahkan berhasil mencetak rekor tertinggi baru. Selain itu, data laba industri di China pada Maret 2026 juga dilaporkan naik 15,5 persen YoY, lebih tinggi dibanding pertumbuhan Februari sebesar 15,2 persen.
Pasar kini menantikan hasil pertemuan Bank of Japan pada 28 April 2026. Bank sentral Jepang tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 0,75 persen.
Statistik Perdagangan Harian
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia hari ini mencatatkan volume sebanyak 30,53 juta saham yang berpindah tangan. Total nilai transaksi mencapai Rp 16,55 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,17 juta kali.
Data pergerakan harga menunjukkan sebanyak 423 saham berhasil menguat, 286 saham terkoreksi, dan 250 saham lainnya berakhir stagnan. Sektor-sektor tertentu masih menunjukkan volatilitas yang tinggi di tengah sentimen global dan domestik.
| Kategori | Daftar Emiten |
|---|---|
| Top Gainers | JAWA, ESIP, IFSH, BOBA, DEFI, SMMT, RODA, BAPA |
| Top Losers | HOPE, BABY, KDTN, BRNA, ENRG, UDNG, CMNP, MSIE |