Kondisi pasar keuangan domestik yang mengalami gejolak pada perdagangan hari ini mendapat perhatian serius dari pemerintah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fluktuasi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah lebih dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, bukan mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Dikutip dari Investor Daily, data Stockbit menunjukkan IHSG pada sesi I perdagangan Senin (18/5/2026) merosot ke zona merah dengan penurunan tajam hingga 4 persen ke level 6.454. Tekanan jual langsung terasa sesaat setelah pasar dibuka hingga membuat indeks saham domestik terjerembap semakin dalam.
Koreksi serupa menimpa nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sekitar 1,15 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda sempat melemah hingga melewati level Rp 17.660 per dolar AS pada pergerakan pasar hari ini.
Pemerintah menyatakan keyakinannya bahwa kondisi perekonomian domestik masih berada dalam posisi yang kokoh untuk menghadapi dinamika eksternal. Pergerakan liar di pasar keuangan saat ini dipandang lebih condong pada faktor psikologis para pelaku pasar.
"Gak apa-apa nanti kita perbaiki. Sekarang pondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek," kata Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Fokus kebijakan pemerintah kini diarahkan pada upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak terganggu oleh volatilitas pasar global. Keberlanjutan stabilitas ekonomi dalam jangka panjang tetap menjadi prioritas utama di tengah gempuran tekanan yang ada.
"Saya fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu," jelasnya.
Sebagai langkah konkret, pemerintah mulai menjalankan strategi stabilisasi di pasar surat utang negara atau obligasi. Intervensi ini dirancang untuk mempertahankan kepercayaan para pemodal, khususnya investor asing yang menguasai porsi kepemilikan surat utang pemerintah dalam jumlah signifikan.
"Kita sudah masuk tapi hanya sedikit. Mulai hari ini kita akan masuk lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasi terkendali," ujar Purbaya.
Suntikan modal melalui langkah stabilisasi pasar obligasi ini diharapkan mampu mengerem laju aliran modal asing yang keluar dari Indonesia. Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menopang nilai tukar rupiah agar tidak terperosok ke dalam depresiasi yang lebih parah.