IHSG Berpotensi Menguat ke Level 7.140 pada Perdagangan Selasa

IHSG Berpotensi Menguat ke Level 7.140 pada Perdagangan Selasa
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Menguat ke Level 7.140 pada Perdagangan Selasa.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diprediksi bergerak pada rentang 7.000 hingga 7.140 dengan peluang penguatan pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Pergerakan indeks hari ini dipengaruhi oleh stabilisasi teknikal pasca rebound dari area support kuat dan sentimen bursa global.

Dilansir dari Investortrust, riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan bahwa IHSG berhasil bertahan di atas level psikologis 7.000 yang mengindikasikan pola double bottom. Jika indeks mampu mempertahankan posisi tersebut, terdapat potensi penguatan lanjutan dengan target resistance berada di kisaran 7.150 hingga 7.300.

Kondisi geopolitik dan data ekonomi makro menjadi perhatian utama para investor saat ini. Faktor eksternal seperti konflik di Timur Tengah serta data domestik akan mempengaruhi arah laju indeks dalam waktu dekat.

ÔÇ£Meski demikian pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik Iran yang telah memasuki minggu kelima, termasuk keterlibatan Houthi dan tambahan pasukan AS, serta rilis data domestik seperti inflasi dan neraca perdagangan,ÔÇØ tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Pasar saham Amerika Serikat memberikan sinyal beragam bagi bursa domestik setelah Dow Jones mencatatkan kenaikan tipis 0,11 persen semalam. Namun, pelemahan masih membayangi indeks S&P500 dan Nasdaq yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,39 persen dan 0,73 persen.

Pada perdagangan hari ini, terdapat tiga saham yang direkomendasikan untuk dibeli oleh analis. Saham-saham tersebut adalah HRUM dengan target harga Rp1.120-1.165, MEDC dengan target Rp1.995-2.250, dan FORE pada rentang Rp605-625 per lembar saham.

Sebelumnya, IHSG ditutup melemah tipis 5,39 poin atau 0,08 persen ke level 7.091 pada hari Senin. Aktivitas pasar diwarnai aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp686,12 miliar, dengan tekanan jual terbesar terjadi pada saham perbankan seperti BBRI, BBCA, dan BMRI.

Penurunan indeks tersebut dipicu oleh koreksi sejumlah saham unggulan di sektor perbankan dan pertambangan seperti INCO dan MORA. Di sisi lain, saham-saham seperti DCII, DSSA, dan ITMG justru bertindak sebagai penahan pelemahan indeks di tengah fluktuasi pasar.

Beberapa emiten lapis kedua justru mencatatkan lonjakan harga yang signifikan hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA). Saham GSMF melonjak 34,44 persen ke posisi Rp121, disusul oleh NZIA yang meningkat 34,02 persen menjadi Rp260 pada penutupan perdagangan terakhir.

Artikel terkait

Rekomendasi