Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan sebesar 70 poin atau merosot 1,11 persen ke level 6.248 pada pembukaan perdagangan Kamis (21/5/2026), dilansir dari Media Indonesia.
Penurunan tajam tersebut terjadi menyusul pengumuman rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang khusus menangani kegiatan ekspor. Koreksi ini sekaligus melanjutkan tren negatif dari hari Rabu (20/5/2026) saat indeks ditutup melemah 0,82 persen pada posisi 6.318,500.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengonfirmasi bahwa situasi tersebut merupakan bentuk reaksi spontan dari para pelaku pasar modal. Pemerintah menilai para investor masih mengantisipasi kejelasan informasi terkait regulasi anyar itu.
"Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut, jual dulu. Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harusnya akan naik," ujar Purbaya, Menteri Keuangan.
Purbaya menegaskan pendirian badan usaha baru ini diproyeksikan mampu menghentikan rekam jejak under invoicing yang merugikan keuangan negara. Kebijakan tersebut juga dirancang agar pendapatan korporasi yang melantai di bursa efek dapat tercatat secara transparan tanpa ada pengendapan modal di luar negeri.
"Jadi harusnya bisa double untungnya yang listed di bursa yang dilaporkan. Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan di bursa. Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan," imbuh Purbaya, Menteri Keuangan.
Penilaian senada turut disampaikan oleh pihak manajemen Danantara Indonesia terkait fluktuasi indeks domestik tersebut. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, melihat dinamika ini sebagai fase penyesuaian pemodal dalam mencari kepastian hukum.
"Tentunya kalau IHSG, ini kan mereka perlu mencari certainty juga, pengen tahu hasilnya. Ya insya Allah pasti baik lah, kan kita pasti akan melihat market, marketnya penting. Optimis secepatnya (membaik lagi)," kata Pandu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia.
Kondisi pasar keuangan dalam negeri diyakini akan segera berangsur pulih dalam periode mendatang. Di sisi lain, Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani memastikan pemerintah tetap menghormati kontrak yang telah terjalin terkait ekspor komoditas sumber daya alam (SDA).