Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 23,7% secara year to date (YTD) hingga 18 Mei 2026. Seperti dikutip dari Investortrust, performa ini menempatkan bursa saham Indonesia sebagai indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan bursa global lainnya yang justru menguat. Di Asia, indeks STI Singapura tumbuh 7,6% dan Nikkei 225 Jepang melesat 20,8%, sementara indeks S&P 500 di Amerika Serikat naik 8,1%.
Pelemahan IHSG juga jauh lebih besar dibanding bursa Eropa yang terkoreksi tipis. Indeks Ukraina tercatat hanya turun 7% dan Copenhagen Stock Exchange Denmark melemah 5,4% pada periode yang sama.
Kemerosotan pasar saham domestik sepanjang 2026 ini mengindikasikan adanya faktor internal yang kuat. Situasi tersebut berbeda dengan koreksi pada April 2025 yang dipicu pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat dan menekan hampir seluruh bursa dunia.
Faktor pertama yang menekan pasar modal adalah agenda rebalancing MSCI Mei 2026 yang memicu penarikan dana asing secara masif. Sebanyak 18 emiten mengalami pengurangan atau penghapusan bobot dari indeks MSCI.
Enam saham didepak dari MSCI Global Standard Index tanpa adanya konstituen baru, yaitu AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Langkah pembersihan portofolio ini memicu potensi aliran modal keluar (outflow) sebesar Rp19,5 triliun yang mulai efektif pada 1 Juni 2026.
Lonjakan harga minyak Brent menjadi faktor kedua yang memperberat langkah fiskal dalam negeri. Harga minyak dunia kini bertengger di kisaran US$110 per barel, melambung jauh di atas asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.
Kenaikan harga komoditas ini memperlebar risiko defisit fiskal dan mendongkrak yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun. Imbal hasil SBN merangkak naik dari 6,1% di awal tahun menjadi sekitar 6,8% per 19 Mei 2026, mendekati level tertinggi tiga tahun terakhir di kisaran 7,2%.
Faktor ketiga berasal dari terdepresiasinya nilai tukar rupiah hingga menyentuh level all time low (ATL) di posisi Rp17.734 per dolar AS. Secara akumulatif, mata uang Garuda telah melemah sebesar 6,1% sepanjang YTD hingga 19 Mei 2026.
Tekanan kurs ini diperparah oleh penurunan cadangan devisa Indonesia selama empat bulan berturut-turut menjadi US$146,2 miliar per April 2026. Rentetan kondisi tersebut meningkatkan sensitivitas pasar dan memperburuk persepsi risiko investor global terhadap aset domestik.
Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) Stefanus Dennis Winarto menilai tekanan terhadap IHSG tahun ini memiliki karakter berbeda karena ketiga faktor tersebut terjadi bersamaan dan saling memperkuat.
ÔÇ£IHSG yang terkoreksi 23,7% YTD tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi global risk-off. Jika faktor global menjadi penyebab utama, seharusnya kita melihat pola penurunan yang relatif serupa di bursa regional,ÔÇØ ujar Stefanus.
Menurut Stefanus, pertumbuhan bursa global saat ini lebih banyak ditopang oleh rotasi modal internasional ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Tren inilah yang menyelamatkan kinerja bursa Amerika Serikat serta beberapa pasar utama di Asia.
Ia memaparkan bahwa rebalancing MSCI memicu aksi jual dana pasif, sedangkan tekanan fiskal akibat lonjakan harga minyak memacu kenaikan yield SBN. Di saat yang sama, kejatuhan nilai tukar rupiah membuat investor global menilai aset berbasis rupiah memiliki risiko yang lebih tinggi.
Arus Modal Asing Beralih ke Instrumen Defensif
Aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing di pasar ekuitas domestik telah mencapai Rp41,3 triliun YTD hingga 18 Mei 2026. Sementara itu, porsi kepemilikan asing pada instrumen SBN juga menyusut sebesar Rp11,8 triliun YTD per April 2026.
Namun, modal asing terpantau mengalir masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan nilai mencapai Rp78,1 triliun pada periode yang sama.
Menurut Stefanus, data pergerakan modal tersebut mengindikasikan bahwa pemodal internasional tidak sepenuhnya keluar dari pasar Indonesia. Mereka hanya menggeser portofolio ke instrumen jangka pendek yang lebih defensif dengan tawaran imbal hasil tinggi.
ÔÇ£Dalam kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian, disiplin dalam pengelolaan risiko tetap menjadi kunci,ÔÇØ tutup Stefanus.
Untuk mengantisipasi tingginya volatilitas pasar, investor disarankan menerapkan strategi investasi yang selektif. Posisi yield SBN tenor 10 tahun yang berada di level 6,8% dinilai sudah mencerminkan premi risiko yang memadai, sehingga reksa dana pendapatan tetap berbasis SBN menawarkan profil risk-reward yang menarik.
Di samping itu, reksa dana pasar uang direkomendasikan untuk menjaga ketersediaan likuiditas portofolio. Sebagai langkah lindung nilai (hedging) terhadap pelemahan nilai tukar rupiah, instrumen reksa dana berbasis dolar AS juga dapat dijadikan pilihan alternatif bagi para investor.