Fluktuasi tajam melanda pasar modal domestik setelah Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mengalami tekanan signifikan pada perdagangan awal pekan. Kondisi ini memicu respons strategis dari pemerintah yang langsung menjalankan intervensi melalui pasar obligasi guna meredam gejolak yang terjadi, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Pergerakan bursa pada Senin, 18 Mei 2026, memperlihatkan tren pelemahan IHSG Bursa Efek Indonesia yang dibuka merosot 94,34 poin atau 1,40 persen ke posisi 6.628,98. Tekanan tersebut terus berlanjut hingga penutupan sesi pertama, dengan koreksi indeks yang sempat menyentuh 320,76 poin atau 4,77 persen ke level 6.402,56.
Kondisi ini dipicu oleh kecemasan para pelaku pasar terhadap ketidakpastian konflik geopolitik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan di tingkat global tersebut berdampak pada lonjakan harga minyak mentah dunia serta memperkuat perkiraan akan bertahannya era suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan sinyal positif dengan menyatakan bahwa koreksi IHSG kali ini lebih dipengaruhi oleh faktor sentimen jangka pendek. Purbaya menegaskan bahwa situasi tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental dari perekonomian nasional yang saat ini tetap berada dalam status tangguh.
"Fondasi ekonominya bagus. Itu masalah sentimen yang agak pendek. Jadi saya akan fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan perkembangan ekonomi tidak terganggu," ujar Purbaya di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Sebagai bentuk tindakan nyata di lapangan, pemerintah melibatkan Himpunan Bank Milik Negara untuk masuk ke pasar obligasi. Langkah intervensi ini diambil guna mengamankan kinerja pasar, membendung potensi capital outflow oleh investor asing yang menghindari risiko capital loss, sekaligus memulihkan stabilitas nilai tukar rupiah secara bertahap.
Pemerintah menyatakan optimisme bahwa penguatan peran Himbara di pasar obligasi yang dimulai sejak hari ini akan mampu meredakan tekanan di pasar modal. Strategi tersebut diharapkan dapat meyakinkan kembali para pelaku pasar bahwa aset domestik tetap memiliki daya tarik investasi jangka panjang yang aman.