Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 2,41 persen ke level 7.200,86 pada perdagangan Jumat (24/4/2026) pukul 10.35 WIB. Penurunan ini memperpanjang tren negatif indeks domestik yang merosot hingga 5,82 persen dalam sepekan terakhir menurut data RTI Business yang dilansir dari Detik Finance.
Kondisi pasar modal Indonesia terus tertekan dengan catatan aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) mencapai Rp 1,88 triliun sepanjang satu pekan terakhir. Pergerakan IHSG bahkan sempat menyentuh titik terendah pada posisi 7.193,42 di tengah pembukaan perdagangan yang didominasi zona merah.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa indeks saham saat ini sedang berada dalam fase tren menurun yang cukup kuat. Faktor eksternal seperti pelemahan kurs rupiah yang sempat menyentuh angka Rp 17.310 per dolar AS menjadi beban tambahan bagi pasar.
"Posisi pergerakannya masih berada di fase downtrend-nya dan berpeluang menutup gap-gap yang terjadi beberapa waktu lalu. Di sisi lain, kemarin nilai tukar rupiah terhadap USD sudah menyentuh Rp 17.300," ungkap Herditya, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Selain faktor nilai tukar, ketegangan di kawasan Timur Tengah tetap menjadi sentimen negatif bagi para pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia. Herditya juga menyoroti adanya risiko fiskal dari dalam negeri yang memicu perubahan proyeksi ekonomi Indonesia.
"Dari dalam negeri masih terdapat risiko fiskal yg mengakibatkan re-rating untuk outlook Indonesia, diperkirakan hal ini menyebabkan outflow," imbuh Herditya, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, menilai bahwa dominasi sentimen penghindaran risiko (risk off) masih sangat kuat di kalangan pemodal saat ini. Ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga global serta penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang mendorong keluarnya modal asing.
"Sentimen risk off masih dominan karena dipicu ketidakpastian arah suku bunga global, penguatan dolar, serta tensi geopolitik yang membuat memicu outflow asing di IHSG," jelas Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.
Keluarnya modal asing ini juga berkaitan erat dengan proses penyesuaian portofolio yang dilakukan investor seiring kebijakan baru otoritas bursa. Penerapan aturan terkait free float dan konsentrasi kepemilikan saham tinggi (HSC) disebut telah mengubah daya tarik sejumlah emiten saham.
"Pasar juga masih dalam fase penyesuaian terhadap kebijakan baru seperti isu penambahan free float dan HSC yang membuat sebagian saham kehilangan daya tarik dalam jangka menengah. Ini tercermin dari net sell asing yang konsisten, yang menandakan bahwa tekanan bukan sekadar teknikal, tapi ada rebalancing portofolio," pungkas Reydi Octa, Pengamat Pasar Modal.