IHSG Melemah ke Posisi 6.318 Akibat Tekanan Saham Petrokimia

IHSG Melemah ke Posisi 6.318 Akibat Tekanan Saham Petrokimia
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Posisi 6.318 Akibat Tekanan Saham Petrokimia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi di zona merah pada sesi penutupan perdagangan Rabu (20/5). Berdasarkan data yang dihimpun, indeks mengalami penurunan sebesar 0,82% yang membuatnya bertengger di level 6.318,50.

Kondisi lesu ini dipicu oleh melemahnya mayoritas sektor saham di bursa. Sektor industri dasar menjadi lini yang mengalami kejatuhan paling dalam setelah merosot hingga 4,67%.

Meski demikian, sektor keuangan tampil sebagai penyelamat yang menjaga pasar tidak merosot lebih jauh lewat pertumbuhan sebesar 1,21%. Lonjakan performa dipimpin oleh saham Mora Telematika Indonesia (MORA) yang melesat 19,75%.

Posisi penguatan sektor keuangan ini kemudian diikuti oleh Sinarmas Multiartha (SMMA) yang terangkat 8,49%. Selain itu, saham Bank Mandiri (BMRI) juga ikut menguat dengan kenaikan sebesar 2,42%.

Sebaliknya, pergerakan IHSG mendapat beban berat dari performa saham kelompok petrokimia dan energi. Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) tercatat anjlok sebesar 14,74% pada perdagangan tersebut.

Pelemahan ini juga menular pada saham Barito Pacific (BRPT) yang terkoreksi sebesar 10,18%. Sementara itu, Barito Renewables Energy (BREN) turut mengalami penurunan nilai saham sebesar 7,62%.

Aktivitas pemodal internasional menunjukkan aksi jual bersih yang mencapai Rp130,88 miliar di pasar reguler. Namun, jika akumulasi secara keseluruhan pasar dihitung, investor asing masih mencatatkan beli bersih senilai Rp249,17 milar.

Kondisi pasar saat ini juga ikut dipengaruhi oleh langkah pemerintah yang berencana mendirikan BUMN ekspor. Badan baru ini diproyeksikan untuk memusatkan kegiatan ekspor komoditas CPO dan batu bara.

Kebijakan sentralisasi tersebut dinilai memberikan efek tekanan tersendiri bagi saham-saham yang berbasis komoditas. Di sisi lain, para pelaku pasar masih bersikap menunggu pengumuman resmi terkait hasil notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed.

Sentimen lain yang dinantikan adalah rilis data neraca berjalan domestik untuk kuartal I-2026. Nilai neraca berjalan tersebut diperkirakan bakal mengalami defisit sebesar US$4,50 miliar.

Berbeda dengan pasar domestik, bursa saham di Amerika Serikat justru mencatatkan performa positif. Indeks Dow Jones merangkak naik 1,31% menuju level 50.009 pada penutupan perdagangan global.

Apresiasi ini diikuti oleh indeks S&P 500 yang bertambah sebanyak 1,08% menjadi 7.432. Sejalan dengan itu, indeks Nasdaq juga ikut menguat sebesar 1,55% dan menetap di posisi 26.270.

Dari panggung emiten dalam negeri, Indika Energy Tbk. (INDY) mengumumkan perolehan laba bersih senilai US$13,59 juta pada kuartal I-2026. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 33,88% dari periode serupa tahun lalu yang senilai US$10,15 juta.

Pendapatan INDY terkerek tipis dari US$489,59 juta menjadi US$493,21 juta. Pertumbuhan ini disokong hasil investasi yang melonjak 73,51% menjadi US$5,47 juta, terutama karena penempatan dana di Nanshan Aluminium International Holdings Ltd sebesar US$20,04 juta.

Beban operasional INDY berhasil ditekan sebesar 1,57% menjadi US$419,18 juta. Penurunan biaya ini disebabkan oleh bertambahnya stok batu bara selama kuartal berjalan yang secara otomatis memangkas beban pokok penjualan tahunan.

Kenaikan persediaan tersebut mengindikasikan bahwa volume produksi batu bara korporasi berada di atas tingkat penjualan sepanjang periode berjalan. Performa keuangan ini dirilis oleh PT Mega Capital Sekuritas yang terafiliasi dengan CT Corpora.

Sementara itu, Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) memasang target pengerjaan tandan buah segar (TBS) sebanyak 700 ribu ton untuk tahun ini. Target tersebut meningkat cukup signifikan dari capaian tahun sebelumnya yang berada di angka 500 ribu ton.

Hingga kuartal pertama tahun ini, realisasi panen TBS dari perseroan telah menyentuh angka 18% dari total target tahunan. Untuk melancarkan strategi bisnis tersebut, manajemen CSRA menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp100 miliar.

Alokasi modal kerja ini dipersiapkan untuk membiayai agenda penanaman kembali atau replanting serta perluasan lahan perkebunan. CSRA memproyeksikan omzet perusahaan mampu menembus Rp2 triliun tahun ini dari posisi sebelumnya Rp1,89 triliun.

Di sektor lain, Bangun Kosambi Sukses (CBDK) mengalokasikan anggaran maksimal Rp250 miliar demi mendanai aksi pembelian kembali saham perusahaan. Pembiayaan agenda buyback ini bersumber sepenuhnya dari kas internal perseroan.

Posisi likuiditas atau kas internal CBDK berada di angka Rp2,75 triliun pada kuartal I-2026. Manajemen menerangkan proses buyback saham akan berlangsung dalam rentang waktu 20 Mei hingga 19 Agustus 2026 melalui Ina Sekuritas Indonesia.

Volume saham yang akan diserap kembali oleh korporasi tetap berjalan selaras dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai saham treasuri.

Artikel terkait

Rekomendasi