Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok sebesar 34,73 poin atau 0,46 persen ke level 7.550 pada Selasa (20/4/2026). Nilai transaksi bursa tercatat mencapai Rp 16,5 triliun dengan rentang pergerakan indeks di angka 7.511 hingga 7.602.
Dilansir dari Investortrust, penurunan indeks tersebut dipicu oleh kejatuhan tiga saham berkapitalisasi besar (big cap). Saham BREN tercatat melemah 9,47 persen menjadi Rp 5.975 dan saham DSSA anjlok hingga 14,98 persen menjadi Rp 2.780 akibat besarnya konsentrasi saham yang berpeluang keluar dari MSCI.
Tekanan terhadap indeks juga diperberat oleh melemahnya saham BBRI sebesar 4,94 persen setelah melewati masa cum dividen pada hari sebelumnya. Penurunan sektor energi dan infrastruktur menjadi penyumbang tekanan terbesar bagi IHSG hari ini.
Kondisi pasar saham domestik tersebut berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham di Asia yang justru ditutup menguat. Di pasar modal Indonesia sendiri, kenaikan pesat melanda saham-saham di sektor material dasar, industri, konsumer primer, teknologi, dan properti.
Meskipun indeks mengalami pelemahan, sebanyak 11 saham berhasil mencatatkan penguatan pesat hingga mengalami auto reject atas (ARA). Lima saham di antaranya melesat lebih dari 34 persen, yaitu BOBA yang naik 34,91 persen, LAND naik 34,72 persen, LCKM menguat 34,48 persen, RODA naik 34,29 persen, dan CTTH menguat 34,09 persen.
Beberapa saham lain yang juga terkena ARA adalah APIC yang naik 25 persen, ARGO naik 24,86 persen, KICI naik 24,81 persen, DEFI naik 24,55 persen, WBSA naik 24,82 persen, dan BABY yang menguat 24,43 persen.
Pada hari sebelumnya, IHSG juga ditutup anjlok sebesar 39,89 poin atau 0,52 persen ke level 7.594 seiring pelemahan seluruh sektor saham dengan penurunan terdalam di sektor properti, konsumer primer, keuangan, kesehatan, energi, hingga konsumer non primer. Padahal, investor asing saat itu membukukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 380,73 miliar, dengan kontribusi terbesar dari saham BREN sebesar Rp 269,74 miliar dan SSMS senilai Rp 200,16 miliar.