Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 2 persen pada perdagangan intraday sesi I Kamis (21/5/2026), meskipun mayoritas bursa saham global dan regional Asia justru terpantau bergerak menguat.
Penurunan indeks domestik ini tercatat mencapai 133 poin atau ambles 2,10 persen ke level 6.185,57 berdasarkan data RTI Business hingga pukul 10.25 WIB, seperti yang dilansir dari Investortrust. Nilai transaksi yang dibukukan menyentuh Rp 6,001 triliun dengan volume perdagangan yang menyentuh angka 11,679 miliar saham.
Kondisi pelemahan indeks di tengah tren positif pasar dunia tersebut turut menjadi perhatian analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit.
"Kalau kita cermati pasar global dan mayoritas regional Asia bergerak menguat, namun IHSG bergerak melemah hingga saat ini terkoreksi lebih dari 2%," kata Didit.
Didit menguraikan bahwa pergerakan indeks saham domestik saat ini masih tertahan di dalam fase downtrend. Menurut analisisnya, situasi tersebut membuat potensi penguatan menjadi terbatas, ditambah dengan ketiadaan sentimen positif yang cukup kuat untuk mendongkrak performa indeks.
Selain itu, terdapat agenda pasar terdekat yang ikut memengaruhi psikologis pelaku pasar modal saat ini.
"Pasar juga tengah menantikan rebalancing MSCI yang akan efektif per 1 Juni 2026, yang berpotensi memicu arus keluar dana asing dari sejumlah emiten berbobot besar," kata Didit.
Faktor penekan pergerakan indeks domestik ini juga dianalisis oleh pengamat pasar modal Elandry Pratama yang melihat adanya divergensi arah pasar.
Elandry menjelaskan bahwa tekanan terhadap indeks saat ini lebih didominasi oleh dinamika internal dalam negeri daripada pengaruh eksternal global. Ia menyebutkan aksi keluar dana asing, depresiasi nilai tukar rupiah, serta kecemasan pelaku pasar atas arah kebijakan fiskal dan likuiditas domestik menjadi pemicu utama Indonesia tidak mengikuti penguatan bursa global. Tekanan ini kian diperberat oleh koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor komoditas.
"Jadi saat ini terlihat ada decoupling sementara antara IHSG dan bursa dunia," ujar Elandry.
Elandry menambahkan bahwa potensi indeks saham untuk merosot hingga ke bawah level 6.000 masih terbuka lebar, kendati hal tersebut belum dikategorikan sebagai skenario utama dalam proyeksi pasar saat ini selama tidak ada tambahan sentimen negatif baru.
"Level 6.000 disebut sebagai psychological support yang cukup kuat, meski pasar masih berpotensi volatil dalam jangka pendek akibat sensitivitas terhadap arus dana asing dan stabilitas rupiah," ujar Elandry.