Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tipis sebesar 0,03 persen ke level 7.621,38 pada perdagangan Kamis (16/4). Pergerakan indeks yang cenderung stagnan ini dipengaruhi oleh tekanan jual investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp1,01 triliun sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Data perdagangan menunjukkan tekanan utama datang dari saham-saham seperti BRPT, DSSA, dan BREN yang mengalami penurunan. Meski demikian, pelemahan lebih dalam berhasil ditahan oleh penguatan sejumlah emiten besar lainnya meliputi SRAJ, TLKM, dan BFIN.
Sektor infrastruktur menjadi beban terberat bagi indeks setelah merosot hingga 0,60 persen dalam satu hari perdagangan. Sebaliknya, sektor transportasi justru tampil perkasa dengan mencatatkan penguatan tertinggi mencapai 3,36 persen di tengah variasi gerak sektoral lainnya.
Kondisi pasar domestik ini berbanding terbalik dengan bursa saham Amerika Serikat yang ditutup menguat tipis pada indeks Dow Jones, S\&P 500, dan Nasdaq. Penguatan di pasar global tersebut dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai kesepakatan gencatan senjata sementara di Timur Tengah.
Kendati sentimen global positif, minat investor asing terhadap instrumen berbasis Indonesia belum menunjukkan peningkatan signifikan. Hal ini terlihat dari pelemahan ETF EIDO dan MSCI Indonesia yang masing-masing terkoreksi sebesar 0,31 persen.
Di sisi korporasi, PT Teladan Prima Agro (TLDN) mengumumkan rencana belanja modal sebesar Rp600 miliar untuk tahun buku 2026. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan fasilitas pengolahan kelapa sawit dan pembangkit listrik tenaga biogas guna menekan biaya operasional.
Sementara itu, PT United Tractors (UNTR) melalui Rapat Umum Pemegang Saham pada 16 April menetapkan pembagian dividen final sebesar Rp1.096 per saham. Total dividen tahun buku 2025 tercatat sebesar Rp1.663 per saham setelah akumulasi dengan dividen interim.
Perseroan menjadwalkan pembayaran dividen tersebut kepada para pemegang saham pada 18 Mei mendatang. Kebijakan dividen yang stabil tetap dijalankan UNTR meskipun perusahaan mencatat penurunan laba bersih menjadi Rp15,17 triliun sepanjang tahun 2025.