Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan tren negatif yang cukup mengkhawatirkan pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Meskipun sempat berusaha memangkas koreksi, indeks kebanggaan bursa domestik ini tetap berakhir di zona merah dengan penurunan signifikan.
IHSG tercatat anjlok sebesar 4,11 persen atau berkurang 254,36 poin, sehingga kini parkir di level 5.941,07. Kondisi ini mencerminkan tekanan jual yang masif di pasar modal sepanjang hari tersebut.
Data Perdagangan dan Sektor Paling Terpuruk
Mayoritas emiten di bursa mengalami penurunan harga yang cukup dalam. Tercatat sebanyak 726 saham atau sekitar 75 persen dari total emiten berakhir di zona merah.
Hanya 75 emiten yang mampu bertahan di zona hijau, sementara 158 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi harian mencapai Rp24,96 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,71 juta kali.
Daftar sektor dan beban berat IHSG pada perdagangan hari ini:
- Sektor Bahan Baku: Mengalami koreksi paling tajam mencapai -9,23 persen.
- Sektor Kesehatan: Menyusul di posisi kedua dengan penurunan sebesar -6,37 persen.
- Saham Perbankan Jumbo: BBCA dan BBRI menjadi penekan utama indeks masing-masing sebesar -28,1 poin dan -21,95 poin.
- Saham Pertambangan: AMMN menyumbang penurunan beban indeks sebesar -17,62 poin.
- Sektor Telekomunikasi: TLKM turut memperberat posisi IHSG dengan kontribusi -10,44 poin.
Penurunan tajam ini mengakibatkan kapitalisasi pasar modal Indonesia menyusut hingga menyentuh angka Rp10.455 triliun. Investor asing juga terpantau melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp525,4 miliar hanya di sesi pertama.
Pergerakan Investor Asing
Berdasarkan data aktivitas pasar, investor asing mencatatkan total penjualan mencapai Rp5,7 triliun. Di sisi lain, aksi beli yang dilakukan investor luar negeri hanya berada di angka Rp5,2 triliun.
Beberapa saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing:
| Kode Emiten | Nama Perusahaan | Nilai Jual Bersih (Net Sell) |
|---|---|---|
| BBCA | Bank Central Asia | Rp263,7 Miliar |
| TPIA | Chandra Asri Pacific | Rp244,5 Miliar |
| BBRI | Bank Rakyat Indonesia | Rp195,2 Miliar |
| DSSA | Dian Swastatika Sentosa | Rp94 Miliar |
Data di atas menunjukkan bahwa tekanan jual paling besar terkonsentrasi pada saham-saham dengan kapitalisasi pasar besar. Hal ini secara langsung menyeret posisi IHSG ke level terendah baru dalam beberapa tahun terakhir.
Posisi Terendah dalam Lima Tahun Terakhir
Anjloknya IHSG kali ini membawa indeks menyentuh level terendahnya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Terakhir kali indeks berada di posisi yang lebih rendah dari level saat ini terjadi pada Mei 2021.
Kondisi ini menandakan bahwa kenaikan yang telah dibangun sejak masa pemulihan pasca pandemi Covid-19 seolah sirna. Pasar saham Indonesia seakan bergerak mundur dan kehilangan momentum penguatannya.
Sebagai perbandingan, IHSG pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) pada 20 Januari 2026 di level 9.134. Namun, hanya dalam waktu singkat, indeks terus mengalami tekanan besar yang belum menunjukkan tanda-tanda berhenti.
Saat ini, para pelaku pasar masih menunggu kepastian kapan tekanan jual ini akan mereda. Investor kini bertanya-tanya apakah level saat ini sudah mencapai titik terendah (bottom) atau masih akan terus merosot lebih jauh.