Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia mengalami penurunan sebesar 17,42 poin ke level 6.112 pada pembukaan perdagangan Jumat (29/5/2026). Pergerakan zona merah ini berbanding terbalik dengan kondisi mayoritas pasar Asia yang terpantau menguat.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investortrust, kemerosotan indeks dipicu oleh jatuhnya sebagian besar sektor saham. Beberapa sektor yang menekan indeks meliputi sektor industri, konsumer non-primer, keuangan, kesehatan, dan properti.
Koreksi ini melanjutkan tren negatif sebelum libur Iduladha, saat IHSG ditutup anjlok 76,15 poin atau 1,23 persen ke level 6.130. Pada perdagangan tersebut, indeks bergerak dalam rentang 6.124 hingga 6.286 dengan nilai transaksi mencapai Rp 15,24 triliun.
Pelemahan sebelum libur tersebut disebabkan oleh jatuhnya seluruh sektor saham. Sektor industri merosot hingga 3,38 persen, disusul konsumer primer sebesar 2,20 persen, properti 2,14 persen, konsumer non-primer 1,69 persen, serta sektor keuangan sebesar 1,52 persen.
Sebaliknya, penguatan hanya melanda sektor teknologi, infrastruktur, dan transportasi pada perdagangan sebelum libur. Untuk pergerakan hari ini, tekanan terbesar datang dari jatuhnya saham ASII, INCO, MLTP, UNTR, dan BUVA, serta penurunan harga saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Di tengah pelemahan indeks, saham dari emiten milik Prajogo Pangestu justru tampil perkasa pada pagi hari ini. Saham BREN dan CUAN langsung dibuka terkena Auto Reject Atas atau ARA dengan kenaikan masing-masing sebesar 25 persen ke Rp 3.300 dan 24,75 persen.
Kenaikan tersebut juga diikuti oleh penguatan saham grup Prajogo Pangestu lainnya. Saham TPIA tercatat menguat 11,05 persen menjadi Rp 2.100, BRPT naik 12,20 persen menjadi Rp 1.740, dan PTRO melonjak 11,23 persen ke posisi Rp 4.150.