IHSG Berpotensi Menguji Level 6000 Akibat Tekanan Jual

IHSG Berpotensi Menguji Level 6000 Akibat Tekanan Jual
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Menguji Level 6000 Akibat Tekanan Jual.

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi terancam menguji level psikologis 6.000 pada perdagangan Jumat (22/5/2026) akibat sentimen negatif yang datang bertubi-tubi di tengah minimnya katalis positif bagi pasar modal.

Proyeksi pergerakan indeks tersebut dilansir dari Investor Daily berdasarkan hasil riset yang dirilis oleh Phintraco Sekuritas untuk pergerakan pasar saham domestik.

Lembaga analis tersebut memperkirakan pergerakan indeks hari ini akan berada pada rentang resistance 6.200, pivot 6.100, serta support di level 5.880 setelah pada hari sebelumnya ditutup melemah sebesar 3,54 persen di level 6.094,91.

Secara analisis teknikal, penutupan celah atau gap pada posisi 6.092 telah terjadi sehingga penurunan lanjutan berisiko menyeret indeks ke area support kuat berikutnya.

<"Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG hari ini berpotensi menguji level psikologis di 6.000. Support kuat berikutnya di level 5.882,"> tulis Phintraco Sekuritas.

Kondisi eksternal yang kurang kondusif dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz yang membuat kenaikan harga minyak mentah berlangsung lebih lama dari perkiraan semula.

Selain itu, respon negatif dari para investor muncul akibat beberapa kebijakan baru pemerintah yang dinilai dapat berdampak buruk terhadap iklim investasi dalam jangka pendek.

Langkah baru dari pemerintah tersebut kemungkinan besar ditujukan untuk menggenjot pendapatan negara demi menekan defisit APBN, sementara proses rebalancing FTSE dan MSCI juga dinilai membayangi pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia.

Tekanan jual diperkirakan masih melanda saham sektor perbankan setelah adanya pernyataan dari lembaga pemeringkat internasional mengenai kondisi perbankan milik negara.

Fitch Ratings menyatakan bahwa peringkat jangka panjang bank Himbara berada pada level BBB/Negatif yang sama dengan peringkat Indonesia karena dipengaruhi kemampuan dukungan pemerintah saat tekanan fiskal meningkat.

Di sisi lain, S&P Global Ratings menilai kebijakan sentralisasi kendali ekspor komoditas oleh Indonesia dapat berisiko menekan pendapatan negara serta mengganggu neraca pembayaran.

<"Sehingga kami masih mencermati saham tambang BUMN dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN,"> papar Phintraco Sekuritas.

Pihak sekuritas merekomendasikan adanya peluang keuntungan bagi investor pada perdagangan hari ini yang terdapat di lima saham pilihan, yakni HMSP, INDF, TINS, WIIM, dan CPIN.

Artikel terkait

Rekomendasi