IHSG Berpotensi Koreksi Lanjutan Jelang Akhir April 2026

IHSG Berpotensi Koreksi Lanjutan Jelang Akhir April 2026
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Koreksi Lanjutan Jelang Akhir April 2026.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih berada dalam fase rawan koreksi pada perdagangan Senin (27/4/2026) akibat tekanan eksternal yang belum mereda di pasar global. Investor ritel diimbau untuk bersikap lebih selektif dan tidak agresif dalam mengambil posisi di tengah fluktuasi pasar modal saat ini.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menjelaskan bahwa IHSG sedang menguji level support pada area 7.100 hingga 7.125 sebagaimana dilansir dari Money. Apabila level tersebut tertembus, terdapat potensi pelemahan lebih lanjut menuju rentang psikologis 6.950 sampai 7.000.

Meskipun demikian, peluang penguatan singkat atau technical rebound tetap terbuka mengingat penurunan tajam yang terjadi sebelumnya. Kondisi ini sangat bergantung pada munculnya sentimen positif, seperti penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS atau mulai stabilnya kondisi pasar keuangan dunia.

Hendra menyebutkan bahwa potensi penguatan yang mungkin terjadi saat ini masih bersifat terbatas dengan resistance awal pada level 7.150 sampai 7.200. Pergerakan indeks belum dapat dianggap sebagai pembalikan tren jika belum diikuti oleh masuknya kembali aliran dana asing secara signifikan ke pasar domestik.

"Dengan kata lain, market masih berada dalam fase volatile downtrend dengan potensi swing jangka pendek," ujar Hendra Wardana, Founder Republik Investor.

Saran bagi para pelaku pasar di tengah tingginya volatilitas adalah dengan menerapkan strategi yang lebih defensif. Bagi investor yang berorientasi jangka pendek, disarankan untuk fokus pada pembelian saat kondisi jenuh jual atau oversold serta disiplin dalam melakukan pembatasan kerugian.

"Di tengah volatilitas tinggi seperti ini, sikap investor ritel disarankan lebih defensif dan selektif. Investor jangka pendek disarankan mengurangi agresivitas, fokus pada trading cepat (trading buy saat oversold) dan disiplin cut loss" papar Hendra Wardana, Founder Republik Investor.

Bagi pemilik modal dengan orientasi jangka menengah dan panjang, akumulasi saham masih dapat dilakukan secara bertahap pada emiten yang memiliki fundamental kokoh. Strategi menjaga porsi uang tunai yang tinggi juga dianggap krusial sebagai bantalan terhadap ketidakpastian pasar yang didominasi faktor luar negeri.

Beberapa sentimen kunci yang perlu dipantau meliputi arah kebijakan suku bunga The Fed, dinamika harga komoditas minyak dan logam, serta indikator foreign flow. Di tingkat nasional, stabilitas imbal hasil obligasi pemerintah dan respons kebijakan dari Bank Indonesia serta OJK menjadi faktor penentu kepercayaan pasar.

Langkah strategis dari pemerintah dan regulator diperlukan untuk menjaga likuiditas serta memperkuat peran investor institusi domestik sebagai penyeimbang arus keluar modal asing. Komunikasi kebijakan yang transparan dinilai menjadi kunci utama guna meredam kepanikan di kalangan investor saham.

Hendra turut merekomendasikan sejumlah saham yang memiliki peluang technical rebound dalam jangka pendek. Beberapa di antaranya adalah PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) dengan target Rp 1.000-Rp 1.100, serta PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target spekulatif Rp 1.700-Rp 1.810.

Sektor pertambangan juga menjadi perhatian dengan rekomendasi pada saham PT Timah (Persero) Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM). Kedua saham ini masing-masing diproyeksikan menuju area target Rp 3.900-Rp 4.070 dan Rp 4.000-Rp 4.200 seiring pergerakan harga komoditas logam dunia.

Artikel terkait

Rekomendasi