Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih cenderung fluktuatif dan bertahan dalam jangka pendek akibat tekanan dari sentimen domestik yang belum mereda, seperti dilansir dari Investasi pada Minggu (17/5/2026).
Kondisi pasar modal saat ini dipengaruhi oleh evaluasi ulang indeks MSCI yang memicu tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar. Area psikologis penting bagi pergerakan indeks berada pada level 6.700 untuk menentukan arah rebound teknikal atau kelanjutan tekanan.
Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Budi Frensidy, memberikan analisis mengenai peluang penguatan indeks yang masih terbatas saat ini.
"Rebound teknikal bisa terjadi setelah koreksi dalam, tetapi pemulihannya belum tentu kuat selama tekanan jual pada saham-saham terdampak MSCI masih berlangsung," ujar Budi.
Menurutnya, perhatian utama para pemodal tertuju pada likuiditas dan porsi saham publik dari emiten berkapitalisasi besar.
"Pasar saat ini tidak hanya melihat kinerja fundamental emiten, tetapi juga kualitas investability, termasuk likuiditas dan free float saham-saham besar di Indonesia," jelas Budi.
Sejumlah saham dinilai berpotensi menghadapi aksi jual oleh investor pasif akibat keluar dari indeks tersebut, antara lain AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT.
"Dampaknya lebih ke likuiditas, persepsi investor asing, dan valuasi jangka pendek, bukan pada kinerja fundamental emiten," kata Budi.
Tekanan jual teknikal diperkirakan mereda setelah tanggal efektif rebalancing berlalu, walaupun isu struktural pasar masih dicermati.
"Isu free float, konsentrasi kepemilikan, dan transparansi pasar menjadi hal yang masih dicermati investor," imbuh Budi.
Dalam menghadapi volatilitas pasar, strategi investasi disarankan lebih mengutamakan kepemilikan dana kas dan pemilihan emiten berlikuiditas tinggi.
"Jangan terburu-buru averaging down hanya karena harga sudah turun. Lebih baik fokus pada saham dengan fundamental kuat, likuid, dan tata kelola yang baik," saran Budi.
Langkah hati-hati diperlukan oleh investor ritel agar tidak terjebak pada saham yang murah tetapi memiliki risiko likuiditas.
"Investor perlu melihat bukan hanya apakah saham murah, tetapi juga apakah saham tersebut cukup likuid dan layak bagi investor besar," tutup Budi.