Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak dalam rentang terbatas pada perdagangan Kamis (23/4/2026) di tengah pengaruh dinamika global dan domestik. Pergerakan indeks dibayangi oleh ketidakpastian geopolitik serta kebijakan moneter terbaru dari Bank Indonesia.
Dilansir dari Money, Herditya Wicaksana selaku Head of Retail Research MNC Sekuritas memetakan level dukungan indeks berada pada angka 7.525. Sementara itu, tingkat resistansi diprediksi akan menyentuh level 7.570 dalam jangka pendek.
Faktor eksternal yang menjadi perhatian utama para investor adalah kebijakan Amerika Serikat terkait hubungan diplomatiknya dengan Iran. Kondisi ini dinilai menjadi variabel krusial yang menahan laju penguatan pasar saham domestik.
"Untuk besok (Kamis) kami perkirakan pergerakan IHSG masih cenderung volatile dengan support 7.525 dan resist 7.570. Kami perkirakan, investor masih mencermati akan gencatan senjata yang diperpanjang oleh AS," ujar Herditya, Head of Retail Research MNC Sekuritas.
Analis dari Phintraco Sekuritas menambahkan bahwa perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu tersebut memberikan dampak ganda bagi pasar. Meski meredakan tensi konflik secara temporer, situasi ini justru memperlama spekulasi mengenai arah perselisihan di masa depan.
Selain ketidakpastian konflik, risiko penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Dari sisi teknikal, indikator stochastic RSI menunjukkan posisi jenuh beli yang mempersulit indeks menembus level MA5 di 7.591.
"Sehingga kami memperkirakan IHSG berpotensi konsolidasi pada rentang level 7.500-7.600 pada perdagangan hari Kamis (23/4/2026)," ulas Phintraco Sekuritas.
Di sisi domestik, stabilitas pasar didukung oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menetapkan suku bunga acuan atau BI Rate tetap pada level 4,75 persen. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen dan lending facility pada angka 5,5 persen.
Langkah tersebut diambil otoritas moneter untuk memitigasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat fluktuasi global. Kendati demikian, sektor perbankan mencatatkan performa positif dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai 9,49 persen secara tahunan pada Maret 2026.