Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia dibuka merosot pada perdagangan Rabu 20 Mei 2026. Data bursa menunjukkan indeks jatuh sebesar 18,48 poin atau sekitar 0,29 persen menuju posisi 6.352.
Seperti dilansir dari Investortrust, pelemahan bursa domestik ini berjalan selaras dengan tren negatif yang membayangi sebagian besar sektor saham di Asia pada pagi hari. Tekanan jual langsung berlanjut pasca-pembukaan pasar modal.
Memasuki menit kedua perdagangan, koreksi indeks semakin merosot hingga 71 poin. Situasi tersebut menyeret IHSG jatuh lebih dalam ke level 6.299.
Kondisi ini dipicu oleh koreksi beruntun di berbagai bidang usaha. Sektor material dasar, energi, industri, transportasi, infrastruktur, consumer primer, hingga consumer non-primer menjadi motor utama pelemahan.
Kendati demikian, sektor kesehatan dan properti justru memperlihatkan arah sebaliknya dengan bergerak naik. Koreksi terdalam bursa utamanya didorong oleh anjloknya saham TPIA sebesar 13,14 persen, RLCO minus 11,78 persen, dan INDY yang melorot 11,07 persen.
Selain itu, saham DSSA terpangkas 4 persen diikuti saham BREN yang turun 2,65 persen. Di tengah situasi koreksi tersebut, beberapa emiten terpantau mengalami lonjakan harga pada pembukaan perdagangan.
Saham INDX melonjak 10,75 persen ke posisi Rp 103, PIPA naik 10,66 persen menjadi Rp 137, dan BEER menguat hingga 23,96 persen ke angka Rp 119. Performa ini menjadi kelanjutan dari koreksi tajam yang terjadi pada hari sebelumnya.
Pada perdagangan kemarin, BEI dilaporkan ambruk sebesar 228,56 poin atau 3,46 persen ke titik terendah pada level 6.370. Di sisi lain, investor asing justru membukukan aksi beli bersih dengan nilai mencapai Rp 260,12 miliar.
Aktivitas beli bersih pemodal asing paling banyak menyasar saham MDKA sebesar Rp 343,41 miar, disusul ADRO senilai Rp 209,08 miliar, dan MBMA sebesar Rp 99,94 miliar. Sentimen negatif pasar saat ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik.
Rencana pemerintah untuk mendirikan Badan Ekspor bagi korporasi pencari sumber daya alam menjadi pemicu utama kecemasan pasar. Sentimen diperparah oleh tekanan nilai tukar rupiah yang merosot ke posisi terendah baru di level Rp 17.706 per dolar AS setelah melemah dalam beberapa pekan terakhir.
Kejatuhan indeks pada hari sebelumnya dipengaruhi kemerosotan sektor material dasar sebesar 7,30 persen dan sektor energi yang jatuh 6,94 persen. Sektor transportasi terpangkas 6,58 persen, industri melemah 4,54 persen, infrastruktur susut 4,13 persen, serta consumer primer terkoreksi 3,36 persen.
Namun, sektor kesehatan mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,55 persen. Beberapa saham tetap mencetak kenaikan tinggi kemarin, di antaranya LCKM melesat 33,93 persen ke Rp 150 dan RELI naik 24,48 persen ke Rp 600.
Selanjutnya, ASPR menguat sebesar 15,42 persen ke Rp 464, FOOD menguat 10 persen ke posisi Rp 187, serta saham SRAJ naik 9,06 persen menjadi Rp 13.850.