IHSG Berpotensi Bearish ke Level 6.000 Saat Saham CPIN dan AMRT Jadi Pilihan

IHSG Berpotensi Bearish ke Level 6.000 Saat Saham CPIN dan AMRT Jadi Pilihan
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Bearish ke Level 6.000 Saat Saham CPIN dan AMRT Jadi Pilihan.

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berada dalam tren bearish pada perdagangan Jumat (22/5/2026). Target pergerakan indeks kini berada pada kisaran 6.000 hingga 6.400, seperti dikutip dari Investortrust.

Riset pagi dari BRI Danareksa Sekuritas memaparkan bahwa posisi support terdekat indeks berada di level 6.000, diikuti support lanjutan pada angka 5.900. Sementara itu, area resistance diperkirakan tertahan di rentang 6.400.

ÔÇ£Fokus perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Current Account Balance dan M2 Money Supply,ÔÇØ tulisnya.

Sentimen dari Wall Street berpotensi memberikan dampak positif setelah indeks Dow Jones mendarat di zona hijau dengan kenaikan 0,55%. Penguatan tersebut juga diikuti oleh Nasdaq sebesar 0,17% dan S&P500 yang menguat 0,087%.

Mencermati kondisi pasar tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham CPIN dengan target harga Rp 4.320-Rp 4.390, serta saham AMRT dengan target harga pada rentang Rp 1.480-Rp 1.520.

Pada perdagangan sebelumnya, posisi IHSG terpangkas cukup dalam hingga 223,56 poin atau melemah 3,54% ke level 6.094. Koreksi tajam ini membuat performa indeks merosot hingga 11% dalam jangka waktu lima hari perdagangan terakhir, disertai aksi jual bersih investor asing senilai Rp 508 miliar.

Aksi jual di pasar modal terpicu oleh rilis dari S&P Global Ratings yang menyoroti wacana pembatasan ekspor nasional. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat menekan laju ekspor, mengurangi pos penerimaan negara, serta memperbesar risiko neraca pembayaran yang kemudian memicu kekhawatiran stabilitas makroekonomi.

Sektor dan Saham Konglomerasi yang Terkoreksi

Penurunan indeks didorong oleh koreksi massal di sejumlah sektor. Sektor energi merosot paling tajam hingga 6,91%, disusul sektor material dasar yang turun 6,53%, sektor konsumer primer melemah 6,05%, sektor infrastruktur terpangkas 5,58%, sektor industri minus 5,37%, dan sektor transportasi melemah 4,92%.

Kondisi ini berimbas langsung pada kejatuhan harga saham milik emiten konglomerasi besar. Koreksi terdalam dialami oleh kelompok bisnis Prajogo Pangestu yang dipimpin oleh saham TPIA hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB), diikuti pelemahan pada saham grup Sinarmas, emiten Boy Thohir, serta emiten Happy Hapsoro.

Artikel terkait

Rekomendasi