Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia merosot tajam sebesar 240,27 poin atau 3,26 persen ke posisi 7.138,32 pada perdagangan sesi II hari Jumat (24/4/2026). Kejatuhan ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Dilansir dari Investortrust, nilai transaksi di bursa saham domestik tercatat mencapai Rp15,02 triliun dengan penurunan yang melanda seluruh sektor saham. Penurunan indeks utama ini sangat dipengaruhi oleh pelemahan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BREN, dan DSSA.
Kombinasi tekanan global, agresivitas arus keluar dana asing, serta pelemahan nilai tukar rupiah dinilai menjadi penyebab utama rontoknya kepercayaan investor di pasar saham. Pengamat pasar modal Reydi Octa memberikan analisis terkait situasi domestik saat ini.
"Selain itu, pasar domestik juga masih dalam fase penyesuaian isu free float dan high shareholding concentration (HSC)," kata Reydi Octa.
Pelemahan IHSG ini diprediksi masih berpotensi berlanjut selama kondisi sentimen global belum menunjukkan perbaikan dan aliran modal asing terus bergerak keluar dari pasar saham dalam negeri.
"Namun, penurunan tajam seperti hari ini biasanya juga membuka ruang teknikal rebound jangka pendek," jelas Reydi Octa.
Untuk pergerakan pekan depan, pasar diperkirakan akan berfluktuasi dalam rentang terbatas dengan peluang penguatan teknikal. Hanya saja, penguatan tersebut dinilai belum kuat membentuk tren naik baru tanpa adanya katalis positif global maupun domestik.
Analisis teknikal lain menunjukkan bahwa indeks saham saat ini sedang berada dalam fase tren menurun dan telah menutup beberapa area celah kosong yang terbentuk sebelumnya. Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memberikan proyeksi mengenai area pergerakan indeks.
"Pergerakannya masih rawan terkoreksi untuk uji area gap berikutnya di 7.022-7.118, namun apabila IHSG mampu bertahan di atas area support krusial 6.917, maka IHSG berpeluang kembali menguat. Worst case, apabila IHSG break area 6.917 maka akan mengarah ke 6.645-6.727," kata Herditya Wicaksana.
Koreksi yang terjadi pada IHSG ini berjalan searah dengan mayoritas bursa global dan regional Asia yang bergerak melemah, ditambah faktor depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Konflik geopolitik di Timur Tengah turut membayangi pasar karena perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari antara Israel dan Lebanon belum meredam kenaikan harga minyak mentah.
"Dari konflik Timur Tengah saat ini sedang terjadi perpanjangan gencatan senjata Israel dan Lebanon selama 60 hari, dimana memberikan angin segar ke depannya, namun harga minyak mentah masih cenderung menguat yang dikhawatirkan akan menimbulkan inflasi dan perlambatan ekonomi secara global," ujar Herditya Wicaksana.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sempat menguat ke level 17.285 setelah sebelumnya berada di kisaran 17.300. Para pelaku pasar dan investor saat ini dilaporkan masih terus mencermati perkembangan terkait risiko fiskal APBN 2026.