Pasar saham domestik mengalami tekanan hebat pada sesi satu perdagangan Senin (18/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 292,363 poin atau 4,35 persen ke level 6.430,956 per pukul 11.22 WIB, seperti diberitakan oleh Money.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG dibuka pada posisi 6.628,976 dan sempat mencapai area tertinggi harian di 6.631,282. Namun, tekanan jual yang mendominasi membuat indeks merosot ke angka terendah di 6.398,786.
Pelemahan ini selaras dengan dominasi saham yang bergerak di zona merah. Tercatat sebanyak 705 saham melemah, 64 saham menguat, dan 48 saham bergerak stagnan.
Aktivitas perdagangan pada sesi pertama berlangsung ramai. Volume transaksi mencapai 19,616 miliar saham dengan nilai turnover Rp 10,778 triliun, serta frekuensi perdagangan sebanyak 1.579.698 kali.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai tekanan berat ini dipicu aksi jual masif investor asing pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps.
Aksi lepas saham paling besar melanda PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Ketiganya bahkan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).
Kondisi tersebut merupakan imbas dari sentimen negatif setelah deretan saham big caps tersebut didepak dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Tekanan berat yang melanda pasar saham saat ini utamanya dipicu oleh aksi jual masif investor asing pada saham-saham big caps seperti DSSA, TPIA, dan AMMN hingga menyentuh batas ARB, seiring sentimen negatif akibat dikeluarkannya saham-saham tersebut dari indeks MSCI," ujar Azharys saat dihubungi Kompas.com, Senin.
Saham AMMN tercatat ambruk 14,86 persen atau turun 550 poin ke posisi Rp 3.150. Saham ini langsung menyentuh batas ARB setelah dibuka di level Rp 3.580 dan sempat bergerak di area tertinggi Rp 3.590.
Tekanan jual AMMN terlihat dari nilai transaksi yang mencapai Rp 293,73 miIiar dengan volume perdagangan sebanyak 912.490 lot. Posisi ARB saham AMMN berada di angka Rp 3.150.
Saham DSSA juga merosot 14,98 persen atau turun 155 poin ke level Rp 880 dan langsung terkunci di batas ARB. DSSA dibuka di Rp 945 dan terus tertekan hingga menyentuh level terendahnya.
Nilai transaksi saham DSSA tercatat sebesar Rp 102,38 miliar dengan volume perdagangan mencapai 1,16 juta lot.
Nasib serupa dialami saham TPIA yang ambruk 14,88 persen atau turun 640 poin ke area Rp 3.660. Emiten petrokimia ini dibuka di angka Rp 3.700 dan sempat menyentuh level tertinggi Rp 3.790 sebelum jatuh ke batas ARB.
Nilai transaksi saham TPIA mencapai Rp 175,19 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 474.870 lot.
Azharys mencatat koreksi IHSG semakin dalam setelah saham komoditas utama turut jatuh. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merosot 11 persen, sementara saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) anjlok 12,76 persen.
Faktor utama lain yang mendorong investor asing melakukan aksi outflow dari pasar domestik adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
"Sentimen makro atas melemahnya nilai tukar rupiah ke level Rp17.655 yang menjadi alasan kuat bagi asing untuk melakukan outflow," paparnya.
Meski pasar dilanda kepanikan, Azharys menilai potensi terjadinya trading halt di BEI masih relatif kecil karena batas pemicu penghentian sementara perdagangan masih cukup jauh.
"Terkait kepanikan pasar, potensi terjadinya trading halt cukup kecil, mekanisme trading halt terbilang masih cukup jauh karena baru akan diaktifkan jika indeks terkoreksi sedalam minus 8 persen di level 6.185," tukas dia.