Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja kurang menggembirakan sepanjang tahun berjalan. Seperti dilansir dari Investortrust, IHSG menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di dunia menurut peringkat year to date (YTD) Indonesia's Economic and Capital Market Development (IECMD) BEI.
Hingga 19 Mei 2026, indeks domestik ini tertahan pada posisi 6.371. Angka tersebut mencerminkan penurunan yang cukup tajam, yakni sebesar 26,3% secara YTD.
Kondisi pasar kian tertekan akibat aksi jual bersih yang dilakukan oleh investor asing secara konsisten sejak awal tahun. Berdasarkan data berkala, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp13,3 triliun pada Januari 2026, dilanjutkan Rp5,7 triliun pada Februari, dan Rp10,5 triliun pada Maret.
Tekanan dari luar negeri ini masih terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Pada April, nilai jual bersih asing melonjak hingga Rp16,8 triliun, dan mencatatkan tambahan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei 2026.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Martha Christina, memberikan perhatian khusus terhadap tekanan bursa domestik yang berlangsung sepanjang tahun ini. Kendati demikian, bursa saham Indonesia dinilai masih menyimpan peluang investasi terukur, terutama pada sektor finansial.
Terdapat empat bank besar nasional yang menunjukkan resiliensi dengan tetap mencatatkan pertumbuhan laba bersih positif secara tahunan. Bank-bank tersebut meliputi BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI.
Berdasarkan kinerja empat bulan pertama 2026, BMRI memimpin dengan pertumbuhan laba tertinggi yang mencapai 18,8% secara year on year (yoy). Pada periode kuartal I-2026, BBRI menyusul dengan kenaikan laba sebesar 13,7% yoy, diikuti BBNI yang tumbuh 5,2% yoy, serta BBCA yang menguat 3,8% yoy.
Koreksi mendalam pada harga saham sektor finansial saat ini dinilai telah membuka ruang akumulasi yang cukup aman bagi para pelaku pasar. Struktur harga yang terbentuk sekarang dinilai mencerminkan nilai wajar yang kompetitif jika dibandingkan dengan tren beberapa tahun terakhir.
ÔÇ£Valuasi saham perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik secara historis karena price-to-book value (PBV) telah mengalami koreksi signifikan mendekati titik terendah multi-tahun,ÔÇØ ujar Martha.
Di samping saham komoditas finansial utama, pihak sekuritas juga merekomendasikan sejumlah emiten dari sektor lain yang memiliki performa solid pada kuartal pertama 2026. Saham pilihan tersebut antara lain ISAT, CMRY, JPFA, MIDI, ERAA, dan SCMA.
Deretan emiten non-perbankan ini dinilai mempunyai potensi penguatan yang baik di masa depan. Indikator utamanya adalah posisi harga saham saat ini yang masih diperdagangkan di bawah nilai konsensus target Bloomberg.
Langkah Antisipasi Volatilitas Pasar
Menghadapi situasi pasar yang bergerak fluktuatif, para pelaku pasar disarankan untuk melakukan penataan ulang terhadap portofolio investasi mereka. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah dengan memperbesar porsi penempatan dana pada instrumen defensif.
Reksa dana pasar uang (RDPU) dapat menjadi pilihan penempatan dana sementara yang relatif aman. Di sisi lain, para pemilik modal juga disarankan untuk mengambil sikap wait and see terhadap instrumen obligasi.
Langkah terbaik dalam kondisi pasar saat ini adalah memprioritaskan saham-saham yang didukung oleh fundamental kinerja kokoh serta memiliki karakteristik defensif yang kuat. Pemilihan aset ini penting dilakukan hingga kondisi pasar finansial kembali bergerak stabil.
ÔÇ£Volatilitas bukan sekadar risiko, tetapi juga peluang bagi investor yang disiplin dan berpengetahuan. Kami berharap investor dapat memahami peta risiko kuartal kedua dengan lebih baik dan mengambil keputusan investasi secara terukur,ÔÇØ ujar Martha.