Pasar keuangan domestik mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan sesi pagi, Senin (18/5/2026). Dilansir dari Money, Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) melorot tajam sebesar 283,558 poin atau setara 4,22 persen ke level 6.439,761 pada pukul 09.57 WIB.
Pada awal pembukaan, indeks sebenarnya sempat bergerak menguat di level 6.628,976 dengan posisi tertinggi mencapai 6.631,282. Namun, peningkatan aksi jual yang masif menyeret indeks hingga menyentuh area terendah pada posisi 6.433,532.
Koreksi tajam ini terjadi seiring dengan dominasi saham-saham yang memerah di lantai bursa. Tercatat sebanyak 663 saham mengalami penurunan, sementara hanya 76 saham yang menguat dan 73 saham lainnya tidak bergerak atau stagnan.
Aktivitas perdagangan di pasar saham dibukukan dengan nilai transaksi yang besar, di mana turnover mencapai Rp 6,722 triliun. Angka tersebut berasal dari volume perdagangan sebanyak 12,634 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 1.027.483 kali.
Kondisi serupa terjadi di pasar spot melalui pelemahan nilai tukar rupiah yang terdepresiasi sebesar 75 poin atau 0,43 persen. Koreksi ini membuat mata uang Garuda tertekan ke level Rp 17.672 per dollar AS.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa gejolak eksternal menjadi pemicu utama dari pelemahan kurs rupiah saat ini. Fokus pasar saat ini tertuju pada eskalasi ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Area Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena statusnya sebagai jalur logistik vital bagi perdagangan minyak global. Ketidakpastian global kian meningkat dipicu oleh insiden penyitaan kapal komersial milik China oleh pihak Iran.
Peristiwa penahanan kapal tersebut bertepatan dengan momentum pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Amerika Serikat dan China. Dampaknya, pelaku pasar menjadi khawatir terhadap stabilitas rantai pasok energi internasional.
ÔÇ£Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,ÔÇØ kata dia.
Selain ketegangan di Selat Hormuz, aksi militer yang terus berlangsung di Israel turut memperkeruh peta geopolitik. Operasi militer bersenjata dilaporkan masih menyasar wilayah Lebanon Selatan serta penargetan terhadap jajaran pimpinan kelompok Hamas.
Rentetan konflik ini mendorong penguatan dollar AS karena statusnya sebagai aset aman atau safe haven di tingkat global. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia diperkirakan melonjak yang berpotensi membebani struktur ekonomi nasional akibat ketergantungan pada impor energi.
Kenaikan harga minyak internasional berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri. Indonesia memerlukan pasokan valuta asing khususnya dollar AS dalam jumlah besar guna mendanai impor minyak yang mencapai 1,5 juta barrel.
ÔÇ£Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,ÔÇØ paparnya.
Faktor Internal dan Sentimen Indeks Global
Tekanan terhadap mata uang rupiah juga bersumber dari dalam negeri akibat siklus pembagian dividen korporasi. Selain itu, terdapat jadwal jatuh tempo pembayaran utang luar negeri yang memicu tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.
Pada saat yang sama, terdapat kecenderungan di masyarakat yang mulai memindahkan simpanan dana mereka dari rupiah ke mata uang asing. Dari sisi fiskal, posisi utang pemerintah tercatat mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, utang pemerintah per 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun. Angka ini meningkat dari posisi akhir tahun 2025 yang berada di level Rp 9.637,9 triliun.
Kenaikan nominal utang tersebut membuat rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terkerek naik. Rasio utang meningkat menjadi 40,75 persen dari posisi 39,86 persen pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Ibrahim memprediksi pergerakan pasar saham domestik masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan. Investor saat ini memilih bersikap menanti terkait kebijakan dari lembaga penyedia indeks global, FTSE Russell.
Lembaga tersebut berencana mengeluarkan sejumlah saham asal Indonesia yang masuk dalam kategori konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Langkah tinjauan berkala indeks tersebut dijadwalkan meluncur pada Juni 2026.
Adanya sentimen rebalancing dari FTSE Russell serta Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi faktor yang terus menekan pasar saham. Di sisi lain, respons pasar juga terpengaruh oleh pernyataan dari Presiden Prabowo Subianto.
Presiden menyatakan bahwa pelemahan kurs rupiah tidak membawa dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat di desa karena mereka tidak menggunakan mata uang dollar AS. Pernyataan tersebut dinilai memicu sentimen negatif bagi para pelaku pasar.
Menurut pandangan Ibrahim, setiap pernyataan resmi dari seorang kepala negara akan selalu dicermati dan direspons oleh pelaku pasar keuangan. Oleh karena itu, otoritas pemerintah diharapkan lebih selektif dan berhati-hati saat memberikan pernyataan mengenai situasi ekonomi.
Kendati dihadapkan pada berbagai tekanan, kondisi pasar keuangan domestik dinilai masih memiliki faktor penopang yang cukup kuat. Hal ini didorong oleh capaian angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang bergerak positif.