Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 20,14 persen sepanjang tahun 2026 hingga Selasa (12/5/2026) akibat kombinasi penundaan rebalancing indeks MSCI dan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dengan Iran. Dilansir dari Suara, pergerakan indeks merosot dari posisi 8.646 ke level 6.905.
Tekanan pada pasar modal domestik diperburuk oleh melonjaknya harga minyak mentah dunia sebagai dampak ketegangan geopolitik. Data Philips Sekuritas menunjukkan investor asing telah melakukan aksi jual bersih di pasar reguler dengan total nilai mencapai Rp 48,46 triliun secara year-to-date.
Kondisi ini berdampak langsung pada nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia yang terkoreksi tajam. Market cap yang pada akhir Januari 2026 masih berada di angka Rp 15.046 triliun, kini menyusut menjadi Rp 12.283 triliun seiring dengan jatuhnya harga saham secara massal.
Mandiri Sekuritas menilai pengumuman hasil tinjauan indeks global oleh MSCI pada hari ini akan menjadi titik balik bagi arah aliran modal asing. Fokus pelaku pasar tertuju pada MSCI Indonesia Index yang dijadwalkan terbit setelah adanya pembekuan indeks sejak Februari lalu oleh organisasi tersebut.
Langkah perbaikan telah diambil oleh Bursa Efek Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan melalui serangkaian reformasi pasar guna memenuhi kriteria MSCI. Dampak dari hasil tinjauan ini diperkirakan akan memengaruhi aktivitas transaksi investor mancanegara dalam periode dua bulan mendatang.
Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas, Kresna Hutabarat, menjelaskan bahwa perubahan bobot emiten Indonesia dalam indeks tersebut akan menjadi indikator utama pergerakan dana. Hal ini mencakup potensi penambahan, pengurangan, maupun pertahanan bobot yang sudah ada.
"Mengenai target IHSG ke depannya, kami masih menjaga target IHSG kami di 9.050 poin. Tapi kembali memang kami melihat potensi revisi ke bawah mengingat adanya potensi tekanan margin akibat dari volatilitas makro yang meningkat dan juga tekanan beban energi ke depannya," kata Kresna, Deputi Kepala Equity Research & Strategy Mandiri Sekuritas.
Hingga saat ini, pelaku pasar masih terus mencermati volatilitas makroekonomi yang dipicu oleh beban energi. Penyesuaian target indeks ke depan akan sangat bergantung pada seberapa besar tekanan margin yang dialami oleh emiten-emiten di bursa dalam menghadapi dinamika pasar global.