Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam pada akhir perdagangan sesi I, Senin (18/5/2026), akibat tingginya tekanan jual di pasar modal domestik. Dikutip dari Money, indeks saham utama ini merosot sebesar 252,971 poin atau melemah 3,76 persen ke level 6.470,348, setelah sempat tertekan hingga menyentuh posisi terendah di 6.441.
Meskipun mengalami penurunan yang cukup signifikan, kondisi pelemahan IHSG ini dilaporkan belum sampai menyentuh batas penghentian sementara perdagangan atau trading halt yang telah ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Koreksi melanda sejumlah indeks saham unggulan lainnya, seperti Indeks LQ45 yang terpangkas 20,109 poin atau turun 3,06 persen menuju posisi 637,770. Sementara itu, indeks syariah Jakarta Islamic Index (JII) merosot 4,21 persen ke level 419,45, dan indeks KOMPAS100 melemah 3,88 persen menjadi 858,58.
Secara umum, pergerakan saham didominasi oleh tren negatif dengan rincian 84 saham mengalami kenaikan, 682 saham melemah, dan 52 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan di bursa mencatatkan frekuensi sebanyak 1,72 juta kali, dengan volume transaksi mencapai 21,55 miar saham dan nilai transaksi keseluruhan menyentuh Rp 11,96 triliun.
Penurunan kinerja terjadi di hampir semua sektor industri di pasar modal. Sektor bahan baku atau basic materials menjadi lini yang mengalami pelemahan paling dalam, terlihat dari indeks IDXBASIC yang anjlok sebesar 8,14 persen menuju level 1.805,14.
Sektor transportasi dan logistik ikut terkoreksi dalam dengan penurunan indeks IDXTRANS sebesar 6,11 persen ke angka 2.011,39. Pelemahannya kemudian diikuti oleh sektor industri yang merosot 4,79 persen serta sektor infrastruktur yang melemah 4,16 persen.
Sektor keuangan juga tidak luput dari tekanan dengan mencatatkan penurunan sebesar 3,80 persen. Di samping itu, sektor kesehatan mengalami penyusutan 3,84 persen, dan sektor energi mencatatkan pelemahan sebesar 3,36 persen pada sesi siang.
Beberapa sektor lainnya yang turut bergerak di zona merah meliputi sektor teknologi yang terkoreksi 2,84 persen, sektor konsumer nonprimer yang turun 3,44 persen, serta sektor properti yang melemah sebesar 2,96 persen.
Saham Berkapitalisasi Besar Jadi Top Losers
Pelemahan IHSG pada perdagangan sesi siang didorong oleh merosotnya harga saham sejumlah emiten berkapitalisasi besar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatatkan penurunan signifikan sebesar 14,98 persen menuju level 880.
Selanjutnya, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) ikut anjlok sebesar 14,88 persen ke posisi 3.660, disusul oleh saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang mengalami penurunan 14,86 persen menjadi 3.150.
Tekanan jual juga berimbas pada saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang melemah sebesar 14,62 persen ke level 1.080, serta saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang terkoreksi hingga 12,09 persen menjadi ke posisi 2.400.
Pengaruh Risiko Geopolitik dan Arus Keluar Modal Asing
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa tekanan pada pasar saham dalam negeri dipicu oleh kelanjutan arus keluar modal asing serta peningkatan risiko geopolitik di tingkat global.
Berdasarkan data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan aksi jual bersih harian atau net foreign sell mencapai Rp 1,35 triliun. Secara year to date (YTD), nilai jual bersih asing telah menembus Rp 49,28 triliun, yang mengakibatkan IHSG terkoreksi sebesar 22,25 persen sepanjang tahun berjalan.
ÔÇ£Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz,ÔÇØ ujar Nafan.
Menurut analisis Nafan, sentimen pasar kian memburuk setelah adanya pernyataan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan intensitas militer jika pihak Teheran tidak melunak. Kondisi ini mencerminkan stabilitas geopolitik di Timur Tengah masih berada dalam posisi yang sangat rapuh.
Di sisi lain, para pelaku pasar sedang mencermati dampak dari dihapusnya beberapa saham asal Indonesia dari MSCI Global Standard Index serta MSCI Small Cap Index, yang diumumkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada pekan lalu.
Nafan memberikan proyeksi bahwa pergerakan arus keluar dana investasi asing masih berpotensi terjadi ke depan, meskipun tingkat intensitasnya diperkirakan tidak akan sekuat pada saat awal munculnya kepanikan pasar.
ÔÇ£Diperkirakan bahwa foreign outflow masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan,ÔÇØ kata Nafan.
Kondisi Kurs Rupiah dan Proyeksi BI-Rate
Tekanan yang melanda pasar keuangan domestik diperparah oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali mengalami depresiasi tajam terhadap mata uang dollar Amerika Serikat.
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), mata uang rupiah di pasar spot merosot sebesar 78 poin atau melemah 0,44 persen ke posisi Rp 17.675 per dollar AS. Angka tersebut menjadi level nilai tukar terlemah sepanjang sejarah pergerakan rupiah.
Saat ini, pelaku pasar keuangan tengah menantikan hasil kebijakan dari Bank Indonesia terkait penetapan suku bunga acuan atau BI-Rate yang dijadwalkan dalam rapat pada Rabu (20/5/2026).
ÔÇ£Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah,ÔÇØ kata Nafan.
Mayoritas Bursa Saham di Asia Bergerak Melemah
Sentimen negatif tidak hanya melanda pasar modal Indonesia, melainkan juga menekan mayoritas bursa saham di kawasan Asia pada perdagangan siang ini.
Indeks Nikkei 225 di Jepang terpantau turun sebesar 488,902 poin atau melemah 0,80 persen ke level 60.920,398. Di Hong Kong, indeks Hang Seng juga mengalami koreksi sebesar 350,099 poin atau susut 1,35 persen menjadi posisi 25.612,630.
Sementara itu, indeks SSE Composite di China mencatatkan penurunan sebesar 9,040 poin atau melemah 0,22 persen ke level 4.126,350, dan indeks Straits Times di Singapura ikut terkoreksi sebesar 23,260 poin atau turun 0,47 persen ke posisi 4.965,819.