Pelemahan mendalam kembali melanda pasar saham Indonesia. Dilansir dari Investortrust, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318 setelah merosot hingga 26,3 persen sejak awal tahun, yang menempatkannya sebagai salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
Aksi jual oleh investor asing memperparah keterpurukan pasar modal domestik. Investor luar negeri membukukan penjualan bersih sebesar Rp13,3 triliun pada Januari, Rp5,7 triliun pada Februari, Rp10,5 triliun pada Maret, Rp16,8 triliun pada April, dan Rp4,9 triliun hingga pertengahan Mei.
Kondisi ini dipicu oleh evaluasi risiko di Asia, kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, serta ketidakpastian seputar badan ekspor sumber daya alam baru milik negara. Namun, koreksi tajam ini justru membuka peluang investasi pada saham perbankan berkapitalisasi besar.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyatakan bahwa saham empat bank terbesar, yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI), kini terlihat menarik secara historis.
"Banking stock valuations are now at quite attractive historical levels because price-to-book values have corrected significantly and are approaching multi-year lows," kata Martha Christina, Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam acara Media Day di Jakarta.
Meskipun pasar saham secara keseluruhan tertekan, deretan bank raksasa Indonesia tetap berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang solid.
Bank Mandiri memimpin pertumbuhan dengan kenaikan laba bersih 18,8 persen secara tahunan dalam empat bulan pertama 2026. Sementara itu, Bank Rakyat Indonesia mencatat pertumbuhan laba 13,7 persen, Bank Central Asia tumbuh 3,8 persen, dan Bank Negara Indonesia membukukan pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada kuartal pertama.
Selain sektor perbankan, beberapa emiten dari sektor lain juga menunjukkan kinerja kuartal pertama yang kuat. Perusahaan tersebut meliputi Indosat (ISAT), Cimory (CMRY), Japfa (JPFA), Midi Utama Indonesia (MIDI), Erajaya Swasembada (ERAA), dan Surya Citra Media (SCMA).
Tekanan Saham Konglomerasi dan Imbauan Strategi Defensif
Aksi jual massal menekan hampir seluruh sektor pada perdagangan tersebut, dengan penurunan terdalam di sektor bahan baku sebesar 4,67 persen dan transportasi yang anjlok 4,22 persen. Sektor energi kehilangan 2.65 persen, barang konsumen primer turun 2,06 persen, dan teknologi melemah 1.38 persen.
Beban terberat indeks berasal dari saham-saham kapitalisasi besar yang terkait dengan taipan Prajogo Pangestu. Chandra Asri Pacific (TPIA) terkena batas auto rejection bawah setelah anjlok 14,74 persen, disusul Barito Renewables (BREN) turun 7,62 persen, Barito Pacific (BRPT) jatuh 10,18 persen, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) berkurang 5,33 persen, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) merosot 9,23 persen, dan Amman Mineral Internasional (AMMN) turun 6,31 persen.
Di tengah volatilitas tinggi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pandangan optimis mengenai keberadaan badan ekspor baru, PT Danantara Sumberdaya Indonesia, yang dinilai dapat meningkatkan transparansi dan melipatgandakan profitabilitas perusahaan tercatat.
"If I am not mistaken, profitability should multiply. So this is positive news for companies in the stock market," ujar Purbaya dalam konferensi pers di kompleks parlemen, Jakarta. Ia bahkan menyebut situasi penurunan harga ini sebagai momentum yang tepat untuk mulai mengumpulkan saham.
"If I say it is time to buy, get ready. So if I say it's time to buy, just be ready to scoop them up," kata Purbaya.
Menghadapi situasi ini, Mirae Asset tetap mengimbau investor untuk selektif dan menerapkan strategi defensif dengan mendiversifikasi portofolio ke instrumen pasar uang sambil menunggu momentum masuk yang tepat di pasar obligasi.
"Volatility is not merely a risk, but also an opportunity for disciplined and knowledgeable investors," tutur Martha. Ia berharap investor dapat memahami peta risiko kuartal kedua untuk mengambil keputusan investasi yang terukur.