Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam sebesar 2,86 persen ke posisi 6.969,39 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026) akibat kekhawatiran pasar terhadap rencana kenaikan tarif royalti sektor logam.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan indeks merosot 204,92 poin dengan rentang pergerakan di level 6.969 hingga 7.186 sepanjang hari sebagaimana dilansir dari Market. Sektor material dasar mencatat koreksi terdalam hingga 7,80 persen, diikuti sektor energi yang turun 4,59 persen dan sektor industri sebesar 4,55 persen.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dilaporkan telah melaksanakan uji publik mengenai skema baru tarif royalti progresif yang memicu tekanan jual di bursa domestik.
Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su memberikan penjelasan mengenai sentimen negatif yang langsung berdampak pada sektor-sektor terkait di pasar modal.
"Indeks sektor basic materials (material dasar) langsung melemah pada sesi kedua perdagangan setelah agenda uji publik tersebut berlangsung," ujar Harry Su, Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia.
Emiten yang bergerak di komoditas nikel, timah, tembaga, emas, dan perak diprediksi akan mengalami hambatan profitabilitas dalam jangka menengah jika kebijakan ini diresmikan. Penurunan kinerja laba diperkirakan akan melanda perusahaan tambang pelat merah secara signifikan.
ÔÇ£Berdasarkan estimasi kami, laba TINS tahun 2026 dapat berkurang sekitar 20% apabila tarif royalti baru diterapkan. Kondisi itu turut menyebabkan harga saham TINS turun 14,88% pada perdagangan hari ini,ÔÇØ ujar Harry Su, Managing Director Research and Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia.
Selain faktor internal royalti, pasar juga tertekan oleh berkurangnya cadangan devisa Indonesia senilai US$2 miliar. Situasi ini diperburuk oleh potensi aliran dana asing keluar mencapai Rp30 triliun akibat penyesuaian indeks MSCI.