IHSG Anjlok 1,98 Persen Jelang Libur Panjang Cuti Bersama

IHSG Anjlok 1,98 Persen Jelang Libur Panjang Cuti Bersama
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 1,98 Persen Jelang Libur Panjang Cuti Bersama.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dihentikan sementara waktu dalam rangka memperingati Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus dan kebijakan cuti bersama dari pemerintah.

Kebijakan libur nasional dan cuti bersama ini menyebabkan pasar saham domestik mengambil jeda selama empat hari penuh, seperti dilansir dari Suara.

Operasional perdagangan saham di BEI dijadwalkan akan kembali dibuka secara normal pada Senin, 18 Mei 2026 dengan jadwal reguler biasa.

Tepat sebelum masa libur panjang dimulai, Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) ditutup merosot sangat tajam pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026.

IHSG mencatatkan penurunan drastis hingga 135 poin atau terkoreksi 1,98 persen, yang melemparkan indeks ke posisi 6.723.

Koreksi dalam ini dipicu oleh kepanikan pasar setelah adanya keputusan rebalancing dari MSCI Global Standard Indexes yang memicu aksi jual masif saham-saham berkapitalisasi besar.

Beberapa saham yang menjadi motor utama pelemahan indeks antara lain TPIA, DSSA, AMMN, BREN, CUAN, AMRT, MORA, MLPT, dan AALI.

Sektor material dasar menjadi klaster yang paling menderita dengan kejatuhan mencapai 4,43 persen, disusul sektor infrastruktur yang turun 2,72 persen.

Investor Asing Tarik Dana Rp1,53 Triliun

Investor asing memanfaatkan momentum sebelum libur untuk menarik dana mereka dari bursa domestik secara masif dengan nilai jual bersih mencapai Rp1,53 triliun.

Saham BBRI mencatat nilai jual bersih Rp273,55 miliar, diikuti BMRI sebesar Rp139,76 miliar, AMMN senilai Rp134,73 miar, BBCA sebesar Rp91,76 miliar, dan BUMI senilai Rp85,88 miliar.

Rupiah Tembus Rp17.600 Per Dolar AS

Kondisi pasar modal yang tertekan semakin diperparah oleh situasi di pasar valuta asing dengan nilai tukar rupiah yang bertengger di level Rp17.600 per dolar AS hingga Jumat, 15 Mei 2026.

Pelemahan ini memicu kekhawatiran karena struktur ekonomi Indonesia saat ini masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan baku impor dengan porsi mencapai 70 persen.

Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku impor otomatis melonjak tajam karena transaksi internasional menggunakan mata uang dolar AS.

"Ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal," kata Teuku Riefky.

Menghadapi tekanan biaya produksi ini, produsen cenderung mengambil opsi menaikkan harga atau menerapkan strategi penghematan dengan mengurangi porsi produk atau shrinkflation.

Artikel terkait

Rekomendasi