IHSG Anjlok 1,85 Persen Imbas Koreksi Pasar Saham Asia

IHSG Anjlok 1,85 Persen Imbas Koreksi Pasar Saham Asia
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 1,85 Persen Imbas Koreksi Pasar Saham Asia.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot sebesar 1,85 persen atau terpangkas 124,079 poin ke level 6.599,240 pada perdagangan Senin (18/5/2026). Pelemahan ini terjadi karena pasar saham domestik melakukan penyesuaian terhadap akumulasi koreksi di pasar saham Asia yang berlangsung selama libur akhir pekan kemarin.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilansir dari Money menunjukkan indeks dibuka pada posisi 6.628,976 dan sempat menguat ke titik tertinggi harian di 6.631,282. Namun, tekanan jual yang mendominasi sejak awal sesi menyeret bursa ke zona merah hingga menyentuh level terendah harian di 6.398,786, dengan 616 saham melemah, 125 saham menguat, dan 79 saham stagnan.

Kondisi penurunan ini dinilai sebagai dampak langsung dari dinamika pasar regional yang terjadi saat pasar dalam negeri sedang tidak beroperasi. Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik memberikan penjelasan mengenai situasi pasar terkini tersebut.

"Kalau IHSG hari ini, tentu kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi Tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis dan Jumat pasar kita libur. Di masa kita libur itu, pasar global khususnya pasar Asia itu juga mengalami koreksi," ujar Jeffrey saat ditemui di gedung BEI, Senin (17/5/2026).

Dinamika yang sangat fluktuatif di bursa domestik saat ini dipengaruhi oleh berbagai sentimen global yang memicu ketidakpastian tinggi. Meski demikian, penurunan yang dialami oleh indeks saham dalam negeri masih berada dalam koridor yang sejalan dengan tren pelemahan global.

"Dan kalau kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global, Asia, ditambah dengan sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi saya rasa masih inline dengan global market, tetapi memang ketidakpastian di pasar kita itu masih cukup tinggi," paparnya.

Menyikapi fluktuasi indeks yang bergerak dinamis, para pelaku pasar ritel diimbau untuk tetap rasional dalam mengelola portofolio investasi mereka. Pengambilan keputusan yang matang berdasarkan analisis fundamental menjadi hal yang sangat krusial agar terhindar dari kepanikan pasar.

"Oleh karena itu, tentu tidak bosan-bosan-nya kami mengingatkan supaya investor tentu tetap memperhatikan fundamental, tidak panik, menganalisis secara cermat, mengatur strategi berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing karena kondisi pasar sangat dinamis, ketidakpastiannya masih cukup tinggi," tukas dia.

Mengenai aktivitas modal asing, BEI memandang keluar masuknya dana investor luar negeri sebagai fenomena yang lumrah terjadi akibat pengaruh sentimen domestik maupun global. Otoritas bursa menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia.

"Kalau investor asing tentu dari waktu ke waktu memang masuk dari keluaran dengan segala pertimbangannya. Nah tentu kita melakukan upaya terbaik Agar investor asing akan terus masuk dan untuk jangka panjang tetap stay dan berpartisipasi di pasar kita," lanjutnya.

Di sisi lain, penguatan basis investor lokal memegang peranan yang sangat penting dalam menjaga stabilitas pasar modal nasional. Jumlah investor pasar modal di Indonesia sendiri mencatatkan pertumbuhan positif dan telah melewati angka 27 juta investor hingga Rabu lalu.

Artikel terkait

Rekomendasi