Laju Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG di Bursa Efek Indonesia mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Investortrust, indeks saham ambrol hingga 136 poin atau setara 2,16 persen ke bawah level 6.181 pada transaksi yang berlangsung hingga pukul 09.40 WIB.
Kemerosotan yang terjadi secara signifikan ini memperbesar potensi pergerakan IHSG untuk mendekati zona 6.000 dalam periode dekat. Kondisi tersebut diperparah oleh aksi jual yang melanda hampir seluruh sektor saham selama beberapa hari belakangan.
Menurut rilis data dari pihak bursa, performa negatif indeks pada hari ini disebabkan oleh pelemahan di seluruh sektor. Koreksi paling dalam dialami oleh sektor material dasar yang terpangkas lebih dari 6 persen, diikuti sektor infrastruktur sebesar 3,8 persen, sektor energi di atas 3,3 persen, serta sektor industri yang melemah sekitar 3 persen.
Situasi ini berbalik arah dari momentum awal perdagangan yang sebenarnya sempat menguat atau rebound sebanyak 47,98 poin atau 0,76 persen menuju posisi 6.366. Tren penurunan di pasar domestik ini juga berbanding terbalik dengan kondisi pasar global yang dilaporkan sedang mengalami pemulihan skala besar.
Tekanan berat pada indeks pagi ini utamanya dipicu oleh kelanjutan penurunan harga saham dari emiten-emiten milik taipan Prajogo Pangestu. Koreksi paling tajam dibukukan oleh TPIA yang terkena auto reject bawah atau ARB hingga 14,66 persen, disusul EMAS yang tergerus 10,63 persen, serta BREN yang anjlok 10,39 persen. Selain itu, DSSA melemah 9,86 persen, BRPT turun 8,72 persen, CUAN merosot 7,63 persen, dan AMMN ikut terkoreksi sebesar 6,06 persen.
Pada hari sebelumnya, indeks saham juga ditutup melemah sebesar 52,18 poin atau 0,82 persen ke tingkat 6.318. Padahal, aksi beli bersih oleh investor asing atau net buy tercatat mencapai Rp 249,17 miliar di seluruh pasar pada perdagangan tersebut.
Akumulasi pembelian bersih oleh pemodal internasional paling banyak diarahkan pada saham VKTR dengan nilai mencapai Rp 262,35 miliar. Selanjutnya, saham BUMI mencatatkan net buy sebesar Rp 223,43 miliar dan saham BMRI mengantongi nilai beli bersih Rp 217,73 miliar.
Pelemahan yang terjadi kemarin memiliki pola serupa, yakni dipengaruhi oleh penurunan seluruh sektor saham. Sektor material dasar anjlok hingga 4,67 persen, sektor transportasi susut 4,22 persen, sektor energi turun 2,65 persen, consumer primer melemah 2,06 persen, dan sektor teknologi terkoreksi 1,38 persen. Sebaliknya, pergerakan positif hanya melanda saham-saham di sektor keuangan dan sektor infrastruktur.
Adapun jajaran saham kapitalisasi besar miliki Prajogo Pangestu yang menjadi beban utama indeks kemarin meliputi TPIA yang jatuh 14,74 persen, BRPT ambles 10,18 persen, dan CUAN merosot 9,23 persen. Saham BREN juga terpangkas sebesar 7,62 persen, disusul AMMN yang turun 6,31 persen, serta DSSA yang melemah sebesar 5,33 persen.
Di tengah tekanan pasar, beberapa emiten justru berhasil mencatatkan lonjakan harga yang cukup signifikan. Saham LCKM memimpin penguatan sebesar 29,33 persen menuju level Rp 194, diikuti APIC yang melesat 24,81 persen ke posisi Rp 1.610. Emiten INTD juga menguat 24,35 persen menjadi Rp 286, MORA meningkat 19,75 persen ke angka Rp 7.125, dan ZONE naik sebanyak 18,82 persen menjadi Rp 404.