IHSG Anjlok 3,54 Persen Akibat Sentimen Domestik dan Global

IHSG Anjlok 3,54 Persen Akibat Sentimen Domestik dan Global
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3,54 Persen Akibat Sentimen Domestik dan Global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kemerosotan tajam sebesar 3,54 persen hingga menembus area psikologis ke level 6.094,94 pada penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026). Penurunan signifikan ini dipicu oleh kombinasi tekanan sentimen domestik terkait kebijakan ekspor serta sentimen pasar global, seperti dilansir dari Money.

Koreksi mendalam di bursa domestik ini terjadi di tengah pergerakan mayoritas bursa saham Asia yang sebenarnya berada di zona positif. Tekanan jual yang tinggi membuat indeks saham nasional gagal mempertahankan posisi di area support krusial.

Founder Republik Investor, Hendra Wardana menilai peningkatan ketidakpastian mengenai rencana pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) direspons negatif oleh pasar karena berpotensi memperpanjang birokrasi.

ÔÇ£Dari dalam negeri, pasar merespons negatif meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait rencana pembentukan badan pengatur ekspor sumber daya alam yang dinilai dapat memperpanjang birokrasi dan menurunkan daya saing ekspor nasional,ÔÇØ ujar Hendra.

Pembentukan PT DSI sendiri didasarkan pada Peraturan Pemerintah mengenai Tata Kelola Ekspor Komoditas SDA yang diterbitkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Berdasarkan regulasi tersebut, komoditas strategis tertentu wajib diekspor melalui Badan Usaha Milik Negara yang telah ditunjuk.

Saat ini, tampuk kepemimpinan DSI resmi dipegang oleh Luke Thomas Mahony selaku Direktur Utama. Hendra menambahkan bahwa kecemasan para pemodal di dalam negeri juga ikut didorong oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya angka capital outflow.

ÔÇ£Kekhawatiran tersebut diperparah oleh pelemahan rupiah yang masih berada di kisaran Rp 17.600 per dollar AS, serta derasnya arus keluar dana asing yang sejak awal tahun sudah mencapai lebih dari Rp 51 triliun,ÔÇØ paparnya.

Dari sektor eksternal, pasar keuangan juga tertekan oleh risalah rapat Federal Open Market Committee yang menunjukkan sikap ketat bank sentral Amerika Serikat akibat kecemasan inflasi. Hal tersebut memicu aksi jual pada sektor komoditas dan energi.

Secara analisis teknikal, pergerakan indeks masih berada dalam fase penjualan masif dengan volatilitas tinggi, di mana level 6.000 menjadi area support psikologis berikutnya. Namun, ruang untuk penguatan jangka pendek dinilai mulai terbuka.

ÔÇ£Terutama apabila muncul aksi bargain hunting pada saham-saham big caps yang saat ini sudah berada pada kondisi oversold,ÔÇØ ujar Hendra.

Artikel terkait

Rekomendasi