IHSG Anjlok 1,98 Persen Akibat Sentimen Rebalancing Indeks MSCI

IHSG Anjlok 1,98 Persen Akibat Sentimen Rebalancing Indeks MSCI
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 1,98 Persen Akibat Sentimen Rebalancing Indeks MSCI.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026). Indeks merosot tajam sebesar 1,98 persen atau setara 136 poin menuju level 6.723,320.

Koreksi dalam ini selaras dengan derasnya arus keluar modal asing dari pasar saham domestik. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari Money, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) mencapai Rp 1,34 triliun.

Tekanan jual paling signifikan menyasar saham-saham perbankan dengan kapitalisasi pasar besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell tertinggi senilai Rp 274 miliar.

Aksi lepas saham juga menimpa PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 140 miliar dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) senilai Rp 124 miliar. Selain itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turut dilepas masing-masing Rp 92 miliar dan Rp 63 miliar.

Meski pasar tertekan, beberapa emiten masih menjadi incaran investor. PT Timah Tbk (TINS) memimpin aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 42 miliar, diikuti PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) sebesar Rp 31 miliar.

Saham lain yang masih bertahan di zona hijau adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan Rp 25 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp 19 miliar, serta PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) Rp 16 miliar.

Sepanjang sesi perdagangan Rabu, IHSG sempat menyentuh titik tertinggi di level 6.787,345 namun terus tergerus hingga titik terendah 6.705,433. Dominasi tekanan jual terlihat dari 416 saham yang melemah, berbanding 239 saham menguat dan 163 saham stagnan.

Aktivitas pasar tercatat cukup ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp 19,793 triliun. Volume perdagangan menembus 38,947 miliar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 2,29 juta kali.

Anjloknya pasar saham hari ini dipicu oleh pengumuman tinjauan berkala indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Mei 2026. Keputusan ini berpotensi memicu capital outflow besar-besaran dari pengelola dana pasif global.

MSCI resmi mengeluarkan enam emiten dari daftar MSCI Global Standard Indexes. Keenam saham tersebut adalah AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Namun, saham AMRT diketahui hanya berpindah posisi ke kategori MSCI Small Cap Indexes.

Selain itu, terdapat 13 saham yang dihapus dari MSCI Small Cap Indexes. Daftar tersebut mencakup ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, TKIM, APIC, SSMS, TPAG, dan MSIN.

Seluruh perubahan komposisi indeks ini mulai berlaku efektif pada 1 Juni 2026, setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penghapusan ini memicu aksi jual paksa.

"Hemat saya outflow pasti juga terjadi. Biasanya kalau fund manager yang mereferensikan MSCI standard tentu akan terpaksa menjual saham tersebut untuk menyesuaikan dengan komposisi indeks terbaru," ujar Nafan.

Kondisi ini diprediksi tidak hanya menekan harga saham terkait, tetapi juga memberikan sentimen negatif terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Pelaku pasar kini cenderung bersikap waspada menghadapi volatilitas tinggi.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris MuÔÇÖtashim, memperkirakan nilai dana yang keluar bisa mencapai angka yang fantastis. Faris menyebut potensi tekanan jual akibat rebalancing ini sangat besar bagi saham yang masuk daftar penghapusan.

"Tentunya hal ini akan membuat outflow dari pengelola dana pasif, yang membuat tekanan besar pada saham yang masuk deletion dengan potensi Rp 22 triliun," kata Faris.

Secara teknikal, pelemahan IHSG diprediksi masih dapat berlanjut. Area support indeks saat ini diperkirakan berada pada rentang 6.300 hingga 6.600 seiring dengan perubahan aturan baru terkait free float dan HSC list dari MSCI.

"Beberapa regulasi mengenai free float baru, dan HSC list menjadi rules terbaru untuk inklusi selanjutnya tidak dipenuhi oleh emiten yang mengalami deletion," tutur Faris.

Artikel terkait

Rekomendasi