IHSG Ambles ke Level 6723 Akibat Rebalancing Indeks MSCI dan FTSE Russell

IHSG Ambles ke Level 6723 Akibat Rebalancing Indeks MSCI dan FTSE Russell
Foto: Ilustrasi IHSG Ambles ke Level 6723 Akibat Rebalancing Indeks MSCI dan FTSE Russell.

Tekanan besar sedang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca pengumuman rebalancing dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang kemudian diikuti oleh langkah dari FTSE Russell. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Investasi, keluarnya sejumlah emiten berkapitalisasi besar dari indeks global tersebut kini mengancam popularitas pasar ekuitas domestik.

MSCI dalam pembaruan terbarunya resmi mendepak enam saham dari MSCI Global Standard Indexes, yakni AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT, dengan catatan AMRT dialihkan ke MSCI Small Cap Indexes. Sementara itu, terdapat 13 saham yang tersisih dari MSCI Small Cap Indexes, meliputi ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG.

Dampak dari keputusan tersebut langsung membuat IHSG merosot 1,98% menuju level 6.723,32 pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Beberapa saham yang terdepak mengalami koreksi mendalam, seperti AMMN yang turun 9,09% ke Rp 3.700 per saham dan DSSA yang anjlok 11,16% ke Rp 1.035 per saham.

Koreksi tajam juga melanda tiga saham milik Prajogo Pangestu. Harga saham TPIA merosot 14,85% ke level Rp 4.300 per saham, BREN melemah 11,36% ke level Rp 3.200 per saham, dan CUAN terperosok 10,05% menjadi Rp 850 per saham.

Kondisi ini diperparah oleh aksi jual bersih atau net sell investor asing di seluruh pasar yang mencapai Rp 1,53 triliun pada hari Rabu tersebut. Akumulasi net sell asing sejak awal tahun kini telah menyentuh angka Rp 40,25 triliun.

Situasi pasar modal kian menantang setelah FTSE Russell mengumumkan rencana penghapusan saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari indeks mereka menggunakan mekanisme penilaian hingga menjadi nol. Langkah ini menjadi peringatan bagi pasar domestik karena konsentrasi kepemilikan yang tinggi dinilai berisiko menurunkan likuiditas sehingga menyulitkan transaksi bagi investor global, terutama pengelola dana pasif.

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menjelaskan bahwa sentimen ini membawa dampak yang masif bagi pasar ekuitas Indonesia.

"Apabila saham-saham dari Indonesia semakin berkurang di MSCI, hal ini menjadi salah satu kerugian tersendiri bagi pelaku pasar dan investor untuk bisa menarik masuk dan berinvestasi di pasar saham Indonesia, meskipun MSCI bukan patokan mutlak," ungkap dia, Rabu (13/5/2026).

Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai volatilitas indeks saat ini sebenarnya masih relatif terkendali.

"Ini justru menunjukkan bahwa pasar sudah mulai mengantisipasi keputusan MSCI sejak beberapa pekan terakhir, terutama setelah adanya sinyal pembekuan foreign inclusion factor saham Indonesia," tutur dia, Rabu (13/5/2026).

Menurut Hendra, saham seperti BREN, AMMN, DSSA, CUAN, TPIA, hingga AMRT masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek karena tekanan jual dari institusi global. Saham perbankan kakap seperti BBCA dan BMRI pun ikut tertekan seiring penguatan dolar AS dan kenaikan yield US Treasury, sementara saham sektor defensif berbasis domestik cenderung lebih diuntungkan.

Pengamat Pasar Modal dan Co-Founder PasarDana Hans Kwee melihat situasi ini sebagai peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham blue chip yang harganya terkoreksi secara anomali akibat aksi jual paksa.

"Yang diperlukan adalah konsistensi dari otoritas Indonesia terhadap data (kepemilikan saham) tersebut, lalu menyeragamkan format agar datanya mudah dipakai oleh pelaku pasar," jelasnya, Kamis (14/5/2026).

Hans menambahkan bahwa Indonesia bisa mencontoh India dalam memulihkan kepercayaan pasar global dengan menyelaraskan batas kepemilikan asing serta memperkuat investor domestik. Transparansi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) dinilai menjadi modal krusial untuk reformasi perlindungan minoritas.

Kritik datang dari Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy yang melihat langkah otoritas cenderung reaktif.

"Persoalan free float efektif, transparansi beneficial ownership, HSC, dan asimetri pengawasan harusnya ditangani lebih awal sebelum menjadi catatan MSCI-FTSE," imbuhnya, Kamis (14/5/2026).

Melihat kondisi pasar terkini, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata merekomendasikan strategi hold serta wait and see.

"Area resistance terdekat berada di kisara 6.980ÔÇô7.015 yang perlu ditembus untuk sedikit menetralisir derasnya tekanan jual," imbuh dia, Rabu (13/5/2026).

Liza memproyeksikan area support IHSG berpotensi melebar ke level 6.762-6.745, bahkan membuka peluang penutupan gap pada rentang 6.538 hingga 6.092. Sementara itu, Hendra memperkirakan indeks akan menguji support psikologis 6.700 hingga 6.585 secara teknikal.

Pada pertengahan tahun atau akhir semester I-2026, Hans memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 7.000ÔÇô7.200 saat hasil rebalancing MSCI efektif di bulan Juni. Sedangkan untuk target akhir tahun 2026, indeks diproyeksikan mampu mencapai level 7.600ÔÇô7.800 seiring selesainya penyesuaian indeks global dan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Artikel terkait

Rekomendasi